Diposting : 21 January 2020 20:47
Arief Wibisono - Bali Tribune
Bali Tribune/Konsul-Jenderal Australia untuk Bali, NTB, NTT, Anthea Griffin.

balitribune.co.id | DenpasarDalam beberapa tahun terakhir, jurnalisme di seluruh dunia menghadapi banyak tantangan dan mengalami banyak perubahan. Kita diperkenalkan dengan teknologi digital dan platform baru. Teknologi ini melahirkan jurnalis dan wartawan baru dan mengubah cara berita diterima oleh pembaca. 

“Namun demikian, tidak hanya media konvensional yang harus menyesuaikan diri, kami juga harus menyesuaikan diri,” sebut Konsul-Jenderal Australia untuk Bali, NTB, NTT, Anthea Griffin, Selasa (21/1/2020) saat mengundang rekan media di Bali makan siang di Konsulat Jendral Australia di Denpasar.

Ia juga menyampaikan, lebih dari satu juta orang Australia datang ke Bali setiap tahun. Pemberitaan di media on-line atau di platform sosial media juga menjadi tantangan bagi kami.  Media dengan berita yang akurat dan bertanggung-jawab, apapun platformnya, menjadi sangat penting dan sangat membantu tugas-tugas kami di Konsulat. 

“Karena itu dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kerjasama dan bantuan teman-teman media di Bali selama ini. Komitmen teman-teman media dalam meliput kegiatan dan kerja Konsulat-Jenderal Australia di Bali sangat kami hargai,” imbuhnya.

Di tahun 2020 ini, Konsulat-Jenderal Australia di Bali ingin lebih mengeratkan hubungan dan komunikasi kami dengan teman-teman media. 

Kami akan selalu dengan senang hati berusaha menyediakan informasi dan data akurat untuk mendukung kerja teman-teman di media, dan mendukung penguatan hubungan bilateral Indonesia Australia. 

Indonesia dan Australia menurutnya tetangga yang memiliki berbagai kerja sama yang sangat dekat. Lebih dekat di antara negara-negara di kawasan ini. Kita adalah mitra terdekat dalam penanggulangan terorisme dan sangat kuat dalam penegakan hukum, pertahanan, kerja sama maritim, manajemen perbatasan, transportasi, penerbangan, pertanian, dan pendidikan. Semua hal yang perlu dilakukan tetangga dekat, kita lakukan satu sama lain. Lebih dari 50 lembaga pemerintah Australia bekerja dengan mitra Indonesia di lebih dari 100 bidang kegiatan program. 

“Pemerintah negara bagian kami terlibat. Universitas-universitas terkemuka kami semakin bekerja sama termasuk dalam penelitian, seperti juga organisasi non-pemerintah dan masyarakat sipil,” tuturnya.

Kedutaan Besar Australia di Jakarta adalah yang terbesar yang kami miliki sejauh ini, lebih dari dua kali ukuran kedutaan terbesar kami di Denpasar, kami juga memiliki Konsulat-Jenderal di Surabaya dan Makassar. Tahun lalu, kedua negara kita telah menyelesaikan dua perjanjian yang berpotensi transformatif satu sama lain - Kemitraan Strategis Komprehensif (CSP) dan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia Australia (IA-CEPA).

“CPS menjabarkan program ambisius peningkatan kerjasama kita di bidang ekonomi, keamanan dan pertahanan, maritim, orang-ke-orang dan kerja sama kawasan Indo-Pasifik,” lanjutnya.

IA-CEPA telah di ratifikasi oleh Senat Australia tahun lalu dan kami harap dapat segera diratifikasi oleh DPR Indonesia dalam waktu dekat. IA-CEPA lebih dari sekedar perjanjian perdagangan; perjanjian ini dirancang untuk memperluas kemitraan antara bisnis, institusi dan individu di kedua negara dan untuk membentuk hubungan bilateral kita selama beberapa dekade yang akan datang dengan menciptakan kerangka kerja yang serius untuk pertama kalinya bagi babak baru keterlibatan ekonomi di seluruh ekonomi kita - bisnis, produsen utama, penyedia layanan dan investor. Diakui, warga Australia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Bali dan ia harap dapat menjalin hubungan yang dekat juga dengan teman-teman media Bali.