Bali Tribune, Senin 16 Juli 2018
Diposting : 19 September 2016 15:37
redaksi - Bali Tribune
upacara yadnya
Keterangan Gambar: 
PECARUAN - Melalui Pecaruan di Palinggih Ratu Kokokan, Sabtu (18/9), warga memohon agar koloni kokokan memanfaatkan hutan itu.

Gianyar, Bali Tribune

Puluhan tahun hidup berdampingan dengan koloni burung kokokan atau bangau putih, krama Adat Petulu Gunung, Desa Petutu  Ubud, terus berupaya menjaga keharmonisan.  Untuk menjaga habitatnya, kini sudah disiapkan hutan baru di sebelah Utara Pura Desa setempat. Melalui Pecaruan  di Palinggih Ratu Kokokan,  Sabtu (18/9), warga memohon agar koloni  kokokan memanfaatkan hutan itu, selain pohon-pohon  di pinggir jalan.

  Prosesi diikuti oleh seluruh krama dan prajuru adat setempat yang dipimpin oleh Pemangku Pura. Kali ini, upacara yang bertepatan dnegn Hari raya Kuningan itu, terbilang khusus karena dirangkai dengan pecaruan guru pidhuka.   Serangkaian prosesi, warga bersesaji dihadapan stana ratu kokokan. Sebagai ungkapan syukur atas kemakmuran desa, semenjak kehadiran burung kokokan setengah abad lalu, Dan untuk menjaga kelangsungan hidupnya ke depan, kokona yang disucikan itu diharapkan memanfaatkan hutan baru yang telah disiapkan  sejak beberapa tahun lalu.

Dari penuturan Ketua Badan Pegelola Konservasi Kokokan Petulu, I Wayan Suardana, prosesi di Palinggih Ratu Kokokanm  sudah dilakukan secara rutin. Berkaitan dengan keberadaan   koloni burung kokokan atau bangau puti  yang hidup berdampingan dengan warga desa adat Petulu Gunung yang memiliki nilai sosio- historis.   “Hingga kini pun warga menyakini kekeramatan burung ini dan mensyukuri keberadaannya dengan menggelar upacara  kokokan,” ungkapnya.

Disebutkan, dengan memanfaatkan laba Pura, seluas kurang lebih seratus hektar, kini sudha disiapkan hutan yang sudah ditumbuhan  berbegai jeni pohon yang rindang.  Namun sayang, tak satu pun dari ribuan kokokan yang ini bersarang di hutan itu.   “  Keberadaan kokokan ini diyakini umat sebagai utusan tuhan yang senantiasa menjaga desa dari gangguan penyakit dan hama. Pada kesempatan ini, warga memohon agar keberadaan koloni burung selalu dalam lindungan tuhan. Seiring itu, warga dan kokokan senantiasa hidup rukun dan langgeng.  “Mudah-mudahan melalui prosesi upacara ini, ada kokokan yang mau memanfaatkan  hutan ini. Secara sekala kami sudah upayanya namun belum juga berasil,” terangnya.

Ditambahkan oleh Bendesa Adat Petulu, I Wayan Beneh, dari keyakinan warga ini pula, habitat kokokan selalu dilindungi warga. Didukung dengan aturan adat yang memastikan pengganggu burung bakal dikenai sangsi adat yang cukup berat.

Puncak prosesi, warga desa menggelar persembahyangan bersama. Lanjut itu air suci anugerah ratu kokokan di percikan. Dari langkah  ritual ini, selanjutnya bakal diwujudkan dalam laku nyata. Salah satunya, dalam waktu dekat  warga desa akan membangun hutan baru  dengan memanfaatkan lahan desa.    

Bercerita ke awal, Beneh menuturkan kokokan ini mulai bersarang di Desa Petulu sejak tahuan  1965. Burung ini mulai datang ke pohon-pohon yngg ada di desa setempat  itu. Jumlahnya saat itu, hanya sekitar 5 ekor. Beberapa bulan kemudian, jumlahnya mulai bertambah banyak. “Awalnya oleh masyarakat kami, burung ini ditangkap untuk dipelihara atau dipotong jadi makanan,” terangnya.

Kemudian muncul keanehan, warga yang telah  menangkap burung ini serentak mengembalikan burung itu. Warga mengaku didatangi oleh makhluk aneh bertubuh besar dan menyeramkan. Setelah berkonsultasi dengan seorang pendeta, dilakukanlah ritual permintaan maaf di pura desa setempat.

Saat prosesi berlangsung, pemangku pura desa mengalami trance dan mengatakan kalo burung kokokan ini sebenarnya adalah rencang (pengawal) Ida Betara yngg dipuja di pura desa setempat. Burung-burung ini adalah pasukan yang akan menjaga desa secara segi niskala (dunia maya) dari gangguan penyakit dan hama yg menyerang sawah mereka. “Setelah masyarakat membuat sebuah tugu di pura desa sebagai persembahan terhadap kokokan, desa kami  menjadi makmur, panen melimpah hingga kini,” pungkasnya.