Diposting : 1 September 2016 10:39
redaksi - Bali Tribune
naskah kuno
Tim Penyelamatan Naskah Kuno melakukan door to door

Gianyar, Bali Tribune

Kabupaten Gianyar merupakan salah satu daerah di Bali yang kaya akan naskah kuno. Keberadaan lontar warisan masih tersimpan rapi di Griya, Puri dan beberapa rumah warga lainnya, namun sayang, lontar langka cenderung disembunyikan oleh ahli warisnya. 

Hal itu terungkap saat Tim Inventarisasi dan Perawatan Naskah Kuno dari Dinas Kebudayaan Gianyar melakukan inventarisasi di Puri Cebang, Serongga, Gianyar, Rabu (31/8). Hasilnya, tim hanya mendapatkan lontar warisan yang umumnya juga ditemukan di tempat lain, seperti lontar umum tentang Wariga, Usadha, Tutur, Gaguritan, Babad, Kawisesan, Asta Kosala-kolasi dan lainnya.

“Dalan tiga tahun inventarisasi yang kami laksanakan dengan melibatkan para ahli akademisi dan Widya Saba Dharma Gita, kami belum menemukan lontar yang terbilang langka,” ujar Kabid Dokumentasi dan Disbud Gianyar, AA Gde Agung.

Namun, bukan berarti keberadaan lontar langka itu tidak ada, karena ada dugaan kuat masih disembunyikan oleh ahli warisnya. 

“Dari sejumlah lontar yang kami invetarisir adalah lontar yang memang diserahkan oleh para ahli waris dan dipastikan masih ada beberapa lontar yang tidak diizinkan untuk diinventaris. Kami hanya melakukan pendataan dan sekalius melakukan perawatan agar keberadan lontar itu tidak cepat rusak. Mengenai lontar yang dipingitkan adalah hak mereka,” katanya.

Dari temuan di lapangan, keberadaan naskah lontar masih banyak yang disimpan secara sederhana, baik dalam keropak atau bakul tanpa bahan pengawet. “Kekhawatiran kami, naskah lontar tersebut lama kelamaan akan rusak dimakan waktu. Karena belum pernah disentuh dan belum pernah mendapat perawatan sebagaimana mestinya, baik oleh pewarisnya atau bantuan tenaga ahli yang bergerak dalam naskah-naskah tradisional,” ungkapnya.

Kadis Kebudayaan IGN Wijana menambahkan, melalui program pendataan naskah kuno Nusantara ini, dimaksudkan untuk menyelamtkan aset kebudayaan Nusantara yang tersimpan oleh masyarakat. Pihaknya mengajak masyarakat bersama-sama menyelamatkan lontar kuno, karena sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan multidisiplin ilmu.

Sebagai Kota Pusaka, Gianyar sangat komitmen pada upaya penyelamatan naskah kuno, di antaranya melalui penerjemahan, alih bahasa, dan penyelamatan lontar yang ada di masyarakat. Hanya saja, persoalan yang sering muncul dalam penyelamatan lontar di masyarakat, karena lontar terlalu disakralkan.

“Kondisi inilah yang cenderung menyulitkan kinerja tim. Oleh karena itu, sangat membutuhkan kesadaran masyarakat atau ahli waris naskah kuno ini,” jelasnya.

Dari hasil pendataan lontar ini, Disbud Gianyar sudah menerbitkan dua buku. Tahun 2014 pihaknya menginventarisir 105 lontar, di tahun 2015 bertambah menjadi 140 lontar. “Untuk tahun 2016 ini, kami targetkan 175 lontar dan setiap tahun kami akan terbitkan dalam satu buku,“ katanya.