Bali Tribune, Sabtu 21 Juli 2018
Diposting : 23 May 2017 18:04
I Made Darna - Bali Tribune
pertanian
Keterangan Gambar: 
Alih Fungsi lahan pertanian makin meluas di Badung

BALI TRIBUNE - Alih fungsi lahan membuat luas lahan pertanian di Kabupaten Badung terus menyusut. Tiap tahunnya, hampir puluhan hektar lahan pertanian di gumi keris beralih fungsi ditanami beton. Kini luas lahan pertanian yang tersisa di gumi keris hanya sekitar 9.975 hektar. Pada tahun 2016 saja ada sekitar 36 hektar lahan pertanian beralih fungsi untuk ditanami beton.

Data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung menunjukan pada tahun 2013 alih fungsi lahan mencapai  51 hektar.  Kemudian tahun 2014 meningkat drastis menjadi  160 hektar. Pada tahun 2015 alih fungsi kembali ditekan menjadi 40 hektare dan tahun 2016 seluas 36 hektar.

Lahan pertanian ini paling banyak beralih menjadi menjadi pemukiman dan sarana akomodasi pariwisata. Alih fungsi terbesar terjadi di kawasan Kuta Utara. Tingginya alih fungsi lahan ini pun tak disangkal oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, IGAK Sudaratmaja.

Ia mengatakan alih fungsi lahan ini dipicu oleh banyak warga yang menjual tanah ke investor. Kemudian investor menyulapnya menjadi kawasan pemukiman dan akomodasi wisata. "Iya, kita tidak memungkiri memang alih fungsi lahan ini cukup tinggi. Sekarang pun masih terjadi," ujarnya, Senin (22/5).

Diakui pula bahwa penyusutan lahan pertanian paling parah terjadi kawasan Kuta Utara. Pasalnya, kawasan itu perkembangan pariwisatanya paling pesat. "Kuta Utara paling banyak alih fungsi lahan. Selain beralih menjadi pemukiman dan kawasan industri, pembangunan akomodasi wisata disana juga cukup pesat," kata Sudaratmaja.

Syukurnya, lanjut dia, penyusutan lahan pertanian ini bisa sedikit diobati dengan adanya penambahan lahan pertanian baru di Badung. Sawah baru ini dicetak di Subak Pangsut Sari, Desa Belok Sidan, Petang. Luasanya 15 hektar tahun 2015 dan 5 hektar tahun 2016. "Target kita di Subak Pangsut Sari ada penambahan sawah 100 hektar, tapi baru terealisasi segitu," katanya.

Ia juga mengaku sempat salah data sehingga puluhan hektar lahan pertanian masih produktif justru tercatat alih fungsi. "Total luas lahan pertanian yang salah catat mencapai 37 hektar dengan rincian 20 ha di Mengwi, Kuta Utara 10 ha, dan 7 ha di Abiansemal. Dulu itu tidak masuk lahan pertanian, tapi setelah dicek ulang itu lahan pertanian produktif," pungkasnya.