Bali Tribune, Senin 28 Mei 2018
Diposting : 15 May 2018 22:30
redaksi - Bali Tribune
senjata
Keterangan Gambar: 
PERKETAT - Personel polisi dengan senjata lengkap perketat penjagaan pintu masuk Mapolres Gianyar.

BALI TRIBUNE - Pasca serangan bom bunuh diri di Mapolres Surabaya, penjagaan di pintu masuk Polres Gianyar semakin diperketat. Polisi dengan menggunakan senjata laras panjang dan rompi anti peluru disiagakan di  pintu masuk. Sementara Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) Gianyar mengutuk aksisi teroris ini dan berharap aksi sweeping penduduk pendatang tidak berlebihan.

Pantauan BALI TRIBUNE - , Senin (14/5), petugas dengan senjata laras panjang dan rompi anti peluru berjaga dan memeriksa setiap orang yang masuk ke Polres. Petugas  juga memeriksa barang bawaan termasuk tas bawaan warga.

Semantara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Gianyar kemarin mengeluarkan sikap tegas disaksikan Kepala Kesbangpol Gianyar Dewa Alit Mudiartha, PHDI Gianyar, Polres Gianyar dan Kementerian Agama RI Kabupaten Gianyar, di Kantor FKUB Gianyar. Dua pernyataan tegas tersebut, pertama FKUB Gianyar mengutuk keras pelaku pemboman yang terjadi di Surabaya dan tidak mentolelir perbuatan tersebut serta meminta aparat keamanan untuk menuntaskan persoalan tersebut sesuai aturan yang berlaku. Pernyataan kedua adalah agar seluruh umat beragama mengedepankan toleransi, menerapkan ajaran agama masing-masing dan menjaga kerukunan baik di internal, dengan umat lain dan pemerintah. Pernyataan ini dibacakan Ketua FKUB Gianyar Cokorda Gede Partha Sunia didampingi  enam tokoh agama, Hindu, Buddha, Kristen Katolik, Protestas, Islam dan Konghucu.

Sebelum pernyataan sikap ini, masing-masing tokoh agama menyampaikan pernyataan terhadap peristiwa pengeboman dan aksi terror di wilayah lain. Ketua MUI Gianyar Haji Munadjat menyebutkan mengutuk pelaku pengeboman yang mengatasnamakan Islam. Selain itu Haji Munadjat mengaak seluruh umat beragama agar menjaga toleransi. Selanjutnya, dari Kristen Protestan, Romo Suhartono menyatakan peristiwa di Surabaya agar tidak menjadi konflik lain dan tidak terpancing dengan isu-isu yang berkembang dan belum jelas kebenarannya. Romo Suhartono meminta kepada aparat kepolisian agar memberikan no telephone yang bisa dihubungi bila nantinya menemukan orang yang mencurigakan.

Hal senada diungkapkan tokoh Kristen Katolik Gianyar, Lodan. Dirinya menyebutkan sudah memberikan arahan bahwa pelaku adalah orang yang mengatasnamakan agama. “Umat kami tidak dendam dan sudah mengerti. Kami tetap menjaga kerukunan  dan melakukan Pam Swakarsa,” jelas Lodan. Dilanjutkan dari perwakilan Konghucu, Yuan Anton Yogi yang mengajak untuk bangkit, merapatkan barisan dan bahu membahu dan saling menjaga kerukunan antar umat. “Kami mengutuk kelakuan terror tersebut, kita dalam persatuan dan mari tingkatkan toleransi,” ajak Anton Yogi.

Dari PHDI Gianyar, Nyoman Patra menyebutkan agar tidak menanamkan kebencian dan saling melindungi antara mayoritas dan minoritas. Diharapkannya juga agar desa pakraman ikut waspada. Sedangkan di akhir penyampaian sikap dari masing-masih tokoh agama, Ketua FKUB juga mengajak agar masing-masing tokoh agama menyampaikan kepada umatnya terkait sikap dan perilaku termasuk hidup bertoleransi sesame umat beragama. “Mari saling jalankan ajaran agama masing-masing dan tetap menjaga sikap toleransi,” tegasnya.  Dikatakannya juga, di Gianyar sendiri sampai saat ini belum ditemukan pengkondisian atau gerakan mencurigakan pada wilayah tertentu.

Ketua FKUB Gianyar Cok Partha Sunia juga meminta kepada masyatakat Ginyara untuk melapor keberadaan penduduk pendatanga yang  mencurigai. Namun demikian, pihaknya juga mewanti, aksi antisipasi di masyarakat tidak berlebihan, sepertai halnya pelaksanaan pemeriksaan penduduk pendatang yang diharapkan mengedepankan asas toleransi dan menghindari sikap arogansi.