Bali Tribune, Selasa 21 November 2017
Diposting : 17 July 2017 20:31
Agung Samudra - Bali Tribune
hydrocephalus
Keterangan Gambar: 
Ni Ketut Meina Krisnawati digendong ibunya

BALI TRIBUNE - Penderitaan yang maha berat harus ditanggung Ni Ketut Meina Krisnawati, anak keempat buah hati pasang suami istri NI Made Sartini (37) dan I Nengah Mulu (41) warga Banjar Antugan Desa Jehem, Tembuku, Bangli. Di usianya yang baru menginjak dua bulan, Meina Krisnawati harus berhadapan dengan penyakit penumpukan cairan pada otak (hydrocephalus). Tidak itu saja, Meina juga mengalami cacat bawaan pada bibir dan hidung.

Saat di temui di kediamanya, Minggu (16/7), nampak Meina Krisnawati digendong ibunya Made Sartini. Sambil menyuapi susu, Made Sartini menuturkan anak kempat dari empat bersaudara lahir dengan cara operasi Caesar. “Waktu lahir umur kandungan baru delapan bulan, berat bayi dibilang normal dengan berat 3,8 kilo dengan panjang 49 centimeter,” ujarnya.

Dia mengaku selama masa kehamilan tidak ada yang bermasalah dan rutin memeriksakan kandungannya ke salah satu bidan yang ada di Bangli.

 Lanjutnya, proses kelahiran anak yang keempat ini terbilang aneh. Pasalnya, saat itu dia mengaku hanya ingin memeriksakan kandungan, tapi waktu itu tiba-tiba perutnya mendadak sakit. “Saya mau memeriksakan kandungan, tapi saat itu rasanya mau melahirkan, namun selama dua hari bayi tak kunjung lahir dan tetap bukaan satu, akhirnya dioperasi caesar,” ungkapnya.

Usai menjalani proses persalinan, perasaannya tiba-tiba tidak enak, karena tidak diizinkan oleh petugas medis untuk melihat kondisi anaknya. Setelah sedikit memaksa akhirnya petugas medis baru mengizinkan melihat kondisi anaknya. “Saya sempat shock ketika melihat kondisi bayi yang tidak sempurna, namun waktu itu saya berusaha tabah dan hanya memikirkan bagimana menyelamatkan anak saya,” ujarnya sembari menambahkan dua hari setelah dilahirkan, anaknya langsung dirujuk ke RSUP Sanglah guna mendapat penanganan lebih lanjut.

Sambil mengusap air matanya yang menetes, Made Sartini mengatakan dari hasil diagnose tim medis, anaknya menderita penyakit hydrocephalus. Selanjutnya tim medis mengambil tindakan operasi guna mencegah pembesaran pada bagian kepala anaknya. Setelah itu rencananya bakal kembali diambil tindakan operasi pada bagian bibir dan hidung. “Untuk operasi tahap dua akan dilakukan setelah usia anak saya enam bulan,” imbuhnya.

 Syukurnya kata dia dari tindakan operasi, kondisi bagian kepala anaknya tidak lagi membesar dan kini menunggu tindakan medis untuk menjalani operasi bagian bibir dan hidung. Sebagai  rumah tangga tidak mampu yang keseharian hanya mengandalkan dari hasil keringat suaminya sebagai buruh bangunan, untuk operasi ia gunakan kartu jaminan kesehatan madiri.

Ditanya cara memberi asupan makan, Made Sartini mengungkapkan untuk keseharian anaknya hanya diberi susu, karena kondisi bibir yang tidak sempurna, maka untuk memberikan susu tidak bisa menggunakan dot. “Untuk minum susu saya pakai sendok dan langsung dituang ke rongga mulut,” sebutnya.