Diposting : 15 July 2016 10:20
habit - Bali Tribune
Toni Ervianto
Keterangan Gambar: 
Toni Ervianto

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatakan kemungkinan besar ISIS beralih strategi untuk melakukan teror kepada warga yang tidak berdosa, akibat kelompok ISIS kini mengalami banyak kekalahan di daerah timur tengah. ISIS telah mengalami banyak kekalahan di banyak tempat di Irak dan Syiria. Tiga puluh persen wilayah yang diduduki berhasil direbut kembali pasukan pemerintah dan sekutunya.

"Karena itu dia mengalihkan strategi menyerang langsung negara lewat teroris-teroris yang dia kirim maupun yang dilakukan simpatisan yang ada di dalam negeri," kata Sutiyoso di Stasiun Tugu Yogyakarta saat akan menuju Jakarta dengan naik kereta api, Minggu (10/7/2016) seraya menambahkan karena ISIS beralih strategi ini maka kewaspadaan harus ditingkatkan serta segera melakukan revisi UU Teroris.

Kalangan pakar intelijen menilai ISIS dan simpatisannya dalam bentuk “lone wolf” sedang mengimplementasikan teori balon akibat terdesaknya ISIS di Suriah--membuat kelompok ini tercerai berai. Untuk dapat menjaga moral para simpatisan dan demi kepentingan ideologis (dan ekonomis) tentu perlu menjaga eksistensi kelompok. Salah satunya adalah melakukan aksi bunuh diri dan tentu saja bukan di Suriah. Teori balon sedang terjadi, ISIS ditekan di Suriah dan dampaknya akan mengembang di tempat lain.

Dalam skala nasional, teori balon juga terjadi di Indonesia. Kelompok radikal yang terkonsentrasi di Poso terdesak oleh operasi gabungan Polri dan TNI. Kelompok ini menyingkir ke Bima, namun tetap dikejar. Akhirnya kelompok radikal ini menyebar ke berbagai daerah termasuk Surabaya dan terkahir di Surakarta yang telah melakukan aksi bom bunuh diri yang diperkirakan ada kaitan dengan aksi bunuh diri di Bagdad, Madina, Jedah, Dhaka, Istanbul dan tempat lainnya yang dipicu oleh perintah dari petinggi ISIS, Abu Muhamad Al Adnani (juru bicara),   kepada simpatisannya untuk melakukan aksi pada bulan Ramadhan dan sesudahnya.

Sependapat dengan Sutiyoso, berdasarkan hasil analisis kelompok IHS seperti dilansir AFP menyebutkan, wilayah yang dikuasai militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah dan Irak dilaporkan semakin berkurang. Hasil analisis menyebut ISIS kehilangan 12 persen wilayahnya hingga pertengahan 2016.

ISIS yang mendeklarasikan kekhalifahannya di sejumlah wilayah Suriah dan Irak sejak tahun 2014 lalu, mulai kehilangan wilayah setelah mengalami kekalahan akibat serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat. "Tahun 2015, kekhalifahan ISIS menyusut sebesar 12.800 kilometer persegi, menjadi 78 ribu kilometer persegi, atau kehilangan 14 persen (wilayahnya). Dalam enam bulan pertama tahun 2016, wilayah mereka menyusut lagi sebesar 12 persen. Hingga 4 Juli 2016, ISIS menguasai setidaknya 68.300 kilometer persegi wilayah di Irak dan Suriah. Tidak hanya wilayah yang menyusut, IHS juga menyebut pendapatan ISIS terus mengalami penurunan. Dari sekitar US$ 80 juta pada pertengahan tahun 2015, turun menjadi hanya US$ 56 juta pada Maret 2016," sebut IHS dalam laporan hasil analisisnya.

Di Suriah, ISIS tengah berada di bawah tekanan rezim pemerintahan Presiden Bashar al-Assad yang didukung militer Rusia dan juga aliansi Arab-Kurdi yang didukung koalisi pimpinan AS serta pasukan pemberontak Suriah. Sedangkan di Irak, pasukan militer yang didukung koalisi AS dan kelompok milisi pro-pemerintah berhasil mengalahkan sejumlah posisi ISIS. Posisi ISIS di kota Manbij, Suriah, saat ini tengah terkepung. Posisi itu berada di jalur strategis yang menjadi rute suplai logistik antara Suriah dengan Turki.

Pada Maret lalu, ISIS berhasil dipukul mundur dari kota kuno Palmyra, Suriah dan pada Juni, ISIS diusir dari kota Fallujah, Irak. Tahun 2015 lalu, ISIS kehilangan wilayah penting Tal Abyad, yang terletak di antara perbatasan Suriah dengan Turki dan juga kehilangan kota Ramadi, Irak. Pada Mei lalu, Pentagon menyebut ISIS telah kehilangan 45 persen wilayahnya di Irak dan kehilangan 16-20 persen wilayah di Suriah.

Peneliti senior IHS, Columb Strack, menyebut menyusutnya wilayah ISIS ini kemungkinan besar berarti ISIS akan meningkatkan serangan yang memicu banyak korban jiwa. "Seiring menyusutnya wilayah kekhalifahan ISIS dan semakin jelas bahwa proyek pemerintahannya mereka gagal, kelompok ini tengah mengatur kembali prioritas mereka," sebutnya.

"Sayangnya, kami memperkirakan adanya peningkatan serangan yang memicu banyak korban jiwa dan sabotase infrastruktur ekonomi, di wilayah Irak dan Suriah, maupun wilayah lain, termasuk Eropa," imbuh Strack.

Sedangkan, Sekretaris Pers Pentagon Peter Cook menyebutkan, dua pemimpin senior ISIS yaitu Wakil Menteri Perang ISIS Basim Muhammad Ahmad Sultan al-Bajari dan Komandan Militer ISIS Wilayah Motul Hatim Thalib al-Hamduni tewas dalam serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat di dekat benteng ISIS di kawasan Mosul, Irak. 

Al-Bajari adalah mantan anggota Al-Qaeda yang bergabung dengan ISIS pada 2014 dan mengintai untuk menguasai Mosul. Sementara itu Al-Hamduni adalah komandan militer sekaligus kepala polisi militer di wilayah Mosul.  Disamping mereka, pasukan koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat menewaskan setidaknya 250 tersangka militan ISIS dan menghancurkan 40 kendaraan ISIS di sekitar Falluja, Irak.