Bali Tribune, Rabu 13 Desember 2017
Diposting : 17 May 2017 20:41
redaksi - Bali Tribune
hydrocephalus
Keterangan Gambar: 
I Nengah Soma tampak terbaring di RSUD Karangasem

BALI TRIBUNE -  Keluarga menolak anaknya dirujuk ke RSUP Sanglah lantaran tidak memiliki biaya, sementara orangtua tak memegang uang sepeser pun. Bahkan pampers pun dapat sumbangan dari perawat yang iba melihat kondisi bocah tersebut.

Kondisi I Nengah Soma (12), seorang bocah penderita hydrocephalus atau kepala membesar, anak dari pasangan I Nengah Ngetis (40) dan Ni Nyoman Manis (40) warga miskin asal Banjar Pandan Sari, Kecamatan Kubu, Karangasem, sangat menyedihkan. Bocah yang semestinya ceria bermain dan belajar di bangku sekolah, kini harus terbaring lemah dan kadang tak sadarkan diri akibat hydrocephalus yang dideritanya sejak tujuh tahun lalu.

Saat ini bocah malang tersebut masih dalam perawatan intensif dua dokter spesialis yakni dokter spesialis syaraf dan spesialis penyakit dalam di Ruang Wijaya Kusuma, RSUD Karangasem. Selang oksigen dan selang infus masih terpasang pada tubuh bocah malang yang kini nyaris mengalami kebutaan di kedua matanya itu akibat hydrocephalus.

Kepada wartawan yang menjenguknya, Selasa (16/5), Ni Nyoman Manis menceritakan ihwal penyakit yang diderita anaknya itu.  Manis sama sekali tidak menyangka jika ternyata anaknya menderita hydrocephalus. Selain awam terhadap jenis penyakit, kemiskinan yang mendera keluarganya serta tinggal di lereng Gunung Agung yang tak terjangkau dan jauh dari pusat kota kecamatan, praktis membuat Manis dan suaminya yang menderita penyakit asma ini sama sekali tidak bisa membawa anaknya berobat ataupun periksa ke Puskesmas.

 “Saya tinggal di atas Pak, jadi sangat jauh kalau mau berobat ke Puskesmas. Lagi pula apa yang mau saya pakai berobat, untuk makan saja saya masih kekurangan,” kesah Nyoman Manis sembari menyebutkan jika sebenarnya dia memiliki JKBM tapi itulah karena tinggal di lereng atas Gunung Agung sehingga tidak terjangkau untuk berobak ke Puskesmas. Tapi untungnya sejak beberapa hari lalu, bocah malang itu sudah terdaftar sebagai penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS).

 Lanjut Nyoman Manis, sulitnya menjangkau Puskesmas dan rumah sakit juga membuat Nyoman Manis terpaksa harus melahirkan anaknya yang kini terbaring menahan rasa sakit dari kepalanya yang membesar itu di rumahnya, dan proses lahirnya Nengah Soma itu juga hanya dibantu oleh suaminya sendiri tanpa bantuan dukun beranak atau bidan.

“Saat lahir anak saya ini normal dan tidak ada tanda apa-apa,” ungkapnya. Hanya saja saat baru lahir Nyoman Manis dan suaminya itu melihat ada kelainan di batang hidung anaknya yakni adanya benjolan kecil.

Karena awam, Nyoman Manis dan suaminya mengira benjolan itu adalah tanda lahir yang nantinya akan hilang. Namun ketika Nengah Soma belajar berjalan, tubuh anak malang itu melemah dan kepalanya mulai membesar. Sejak saat ini sampai akhirnya bocah malang itu berusia 12 tahun sama sekali tidak mendapatkan pengobatan atau pemeriksaan medis sebelum akhirnya sang bocah dilarikan ke RSUD Karangasem dengan menggunakan ojek akibat kondisinya yang sudah mengkhawatirkan.

 Sementara itu Humas RSUD Karangasem, Sang Ayu Damayanti kepada wartawan menjelaskan jika pihak RSUD Karangasem sudah merujuk bocah itu ke RSUP Sanglah tapi pihak keluarga sendiri menolak dan memilih anak mereka dirawat di RSUD Karangasem.