Diposting : 19 September 2016 13:38
I Made Darna - Bali Tribune
ayunan tradisional
Keterangan Gambar: 
Ayunan tradisional yang kerap dimainkan pada Hari Galungan dan Kuningan di Banjar Kerobokan, Munggu, Mengwi.

Bali Tribune-Banyak tradisi klasik yang masih lestari di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung, kendati bergelimang dolar. Selain tradisi makotek yang digelar setiap Hari Suci Kuningan, Desa Munggu juga memiliki tradisi dan alat permainan unik. Yakni ayunan kayu tradisional.

Ayunan tradisional yang ada di desa ini diperkirakan sudah berumur puluhan tahun. Warga setempat bahkan sampai tidak tahu persis kapan ayunan yang terbuat dari kayu itu dibuat. Yang jelas, warga Munggu sudah mewarisi ayunan tradisional itu dari turun temurun.

Kini ayunan tradisional itu di tempatkan di Balai Banjar Kerobokan, Desa Munggu. Jika ke Munggu pada Hari Suci Galungan dan Kuningan maka ayunan itu ramai dimainkan oleh kaum anak-anak.

Menurut penuturan warga setempat, ayunan tradisional ini konon ditempatkan secara berpindah-pindah. Selaku pengelola ayunan ini adalah sekaa (grup) ayunan. Namun sejak beberapa tahun terakhir ayunan ini diserahkan ke Banjar Kerobokan, sehingga warga banjar sepakat menempatkan ayunan itu di lokasi permanen yang berada di bawah bangunan Balai Banjar Kerobokan Munggu.

Kini tiap  menjelang dan setelah Hari Suci Galungan dan Kuningan permainan ayunan tradisional itu selalu dimainkan. Adalah anak-anak desa setempat yang banyak memanfaatkan ayunan warisan leluhur mereka.

Bagi anak-anak yang ingin menaiki ayunan ini cukup hanya merogoh kocek Rp 2000. Dengan uang dua ribu rupiah sudah bisa berputar-putar dengan baling-baling ini selama  putaran kurang lebih satu menit.

Pada zaman dulu durasi putaran ayunan ini menggunakan beruk  yang berisi air yang pada bagian diberi lubang. kalau air dalam beruk sudah penuh, berarti durasi permainan selasai.

Made Peguh, salah seorang penglingsir Banjar Kerobokan, Munggu mengatakan, ayunan tradisional ini paling ramai digunakan anak-anak saat Galungan dan Kuningan. Jika Galungan dimainkan setiap sore hingga selama empat hari dan Kuningan selama tiga hari.

"Ini ayunan kuno. Kami sampai tidak tahu kapan pastinya ayunan ini dibuat," kata Peguh.

Menurut pria 76 tahun ini sebelum zaman Kemerdekaan, ayunan ini sudah ada. "Sebelum Indonesia merdeka ayunan ini sudah ada," imbuhnya.

Dari dulu sampai sekarang, menurut Peguh ayunan tradisional ini baru sekali direnovasi.
Itu pun hanya di bagian penyangga  utama atau batang tengah. Sementara penyangga dan dudukan Ayunan masih tetap menggunakan aslinya. "Dari dulu sampai sekarang ayunan ini baru sekali renovasi, itupun tidak semua," terangnya.

Sementara Made Jane petugas dibagian punia menambahkan bahwa ayunan ini menurut cerita dulunya adalah milik sekaa ayunan. Ayunan ini ditempatkan secara  berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam areal Desa Munggu. Ayunan asli yang dimainkan oleh sekaa ayunan awalnya beratapkan Ilalang (ambengan) dengan dinding kelangsah atau anyaman daun kelapa.
Namun dengan berjalannya waktu dan kesibukan sekaa, akhirnya ayunan ini diserahkan ke Banjar Kerobokan.

“Sejak diserahkan ke banjar, ayunan ini tak lagi pernah berpindah. Sekarang permanen di Banjar Kerobokan,” tegasnya.

Ayunan tradisional ini, menurut dia sengaja dipertahankan sampai sekarang untuk pelestarian budaya.
"‪Permainan ayunan ini tidak mencari untung, tapi lebih kepada pelestarian warisan leluhur," sebut Jane.

Sebagai bentuk komitmen warga setempat melestarikan warisan leluhur mereka, warga Banjar Kerobokan bahkan rela secara bergilir menjaga dan memainkan ayunan ini. Dengan  berjumlah 80 KK warga Banjar Kerobokan membagi diri menjadi dua kelompok untuk mengawal arena permainan tradisional ini.