Diposting : 6 October 2018 22:46
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
KEAMANAN - Petugas keamanan IMF di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai
BALI TRIBUNE - Manajemen Bandar Udara (Bandara) Internasional I Gusti Ngurah Rai menyiapkan sekitar 2.000 petugas keamanan gabungan untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran arus penumpang dan delegasi dari negara-negara peserta Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 yang berlangsung 8 Oktober mendatang di Nusa Dua, Badung.
 
Personel keamanan gabungan yang mulai bertugas pada 1 Oktober tersebut terdiri dari elemen kepolisian dan Paskhas TNI Angkatan Udara (AU). Dari Paskhas TNI AU sendiri turut menerjunkan satuan pelaksana operasi khusus Satuan Bravo 90 untuk ikut membantu keamanan dan kelancaran penyelenggaraan sidang Bank Dunia yang melibatkan delegasi dari 189 negara dan sejumlah kepala negara.
 
General Manager Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi mengatakan personel gabungan akan bertugas dari sebelum kedatangan para delegasi hingga satu minggu setelah acara resmi ditutup. “Personel tersebut akan kami siagakan di posko keamanan terpadu yang beroperasi mulai 1 hingga 21 Oktober 2018,” terang Yanus dalam siaran persnya, Jumat (5/10).
 
Dia menjelaskan, pasukan tersebut juga dibantu petugas rutin dari TNI AU Ngurah Rai, polisi dari Kesatuan Pelaksana Pengawasan Pelabuhan Udara (KP3U), dan pecalang atau petugas keamanan dari desa adat penyangga bandara.
 
Dari internal bandara, manajemen menyiapkan sebanyak 342 personel keamanan (Aviation Security/Avsec) yang bertugas dalam empat kali pergantian jam kerja (shift), sehingga total berjumlah 1.368 orang. Personel Avsec tersebut akan ditempatkan di sejumlah titik, termasuk di posko keamanan terpadu IMF-WBG 2018 yang disiapkan di ruang publik di terminal kedatangan domestik dan area penurunan penumpang (drop off zone) di terminal keberangkatan internasional.
 
Sebelumnya, untuk mematangkan kesiapan pengamanan, telah dilakukan enam kali simulasi atau latihan penanggulangan aksi terorisme dengan melibatkan sejumlah instansi keamanan, mulai dari TNI, Polri, personel khusus, hingga petugas bandar udara, mulai dari November 2017 hingga 2 Oktober 2018.
 
"Tujuannya untuk mempermudah komunikasi dan koordinasi apabila terjadi peristiwa yang tidak terduga," ujar Yanus.
 
Selain mempersiapkan petugas keamanan, PT. Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga turut memastikan kesiapan seluruh fasilitas keamanan pendukung di bandar udara 100 persen siap beroperasi. Manajemen Bandar Udara memastikan bahwa peralatan mulai dari mesin pemindai atau x-ray, alat pendeteksi logam dan pendeteksi bahan peledak, kendaraan patroli, hingga ratusan kamera pengawas yang semuanya tersebar di banyak titik di terminal domestik dan internasional.