Diposting : 4 December 2017 20:02
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
terminal
BENGONG- Para sopir angkot serasa ‘Mati’ pasca bus antar kota dialihkan mangkal di terminal Mengwi.

BALI TRIBUNE - Sejak Terminal Ubung yang dikategorikan sebagai terminal tipe C dan dikosongkan dari bus antar kota dan antar provinsi (AKAP), 23 Oktober lalu, praktis terminal tertua di Bali inipun terlihat sepi.

Matinya terminal inipun berdampak pada sopir angkot maupun pedagang yang biasanya mendapatkan rejeki dari penumpang. Pantauan di Terminal Ubung, Minggu (3/12) kemarin, sopir angkot terlihat lebih banyak duduk-duduk di ruang tunggu penumpang, dan bahkan ada yang duduk di sudut terminal seraya mengobrol dengan rekan sejawatnya.

Tak hanya sopir angkot yang hanya bisa menunggu jika ada penumpang yang datang, sebagian deretan pedagang yang ada di areal terminal inipun  terlihat sudah tutup. Saat ditemui, sopir angkot pun mengaku pasrah dengan kondisi yang dialami sekarang. "Bangkrut semua pak, penghasilan jauh berkurang sejak Terminal Ubung sudah tidak diperbolehkan lagi menerima bus AKAP," kata Gede Satri, sopir angkot asal Karangasem dan tinggal di Denpasar ini, kemarin.

Diungkapkan Satri, jika pagi sampai malam saat ada bus AKAP tetap ada saja penumpang yang memanfaatkan angkot.  Tapi sejak tidak ada bus AKAP lagi, sekarang jauh berkurang dan tidak dapat penumpang. "Kami mohon kepada yang memiliki wewenang agar Terminal Ubung dikembalikan seperti semula, biar ada bus AKAP lagi," harapnya.

Harapnya lagi, kru bus memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang di Terminal Ubung, supaya terminal ini bisa dikembalikan statusnya dan bisa didatangi bus AKAP. Sementara sopir angkot lainnya, Ketut Sutama, yang juga berasal dari Karangasem dan tinggal di Denpasar mengaku penumpang sangat sepi sekali di Terminal Ubung. Meski demikian, pihaknya tetap bersyukur meski penumpang sepi karena tidak ada bus AKAP namun ada saja penumoang lokal yang memanfaatkan angkot.

"Untuk penumpang lokal masih ada, tapi itupun jumlahnya tidak banyak. Daripada tidak ada penumpang, saya ambil saja penumpang lokal. Tidak hanya angkot saja yang mati, pedagang juga ikut mati karena tidak ada pembeli. Sepi sekali semua. Dan penumpang yang datang ke Terminal Ubung sudah Sarbagita yang ngambil dan diantar ke Terminal Mengwi. Seharusnya kan bisa angkot dan ojek yang dikasih. Kalau begini, ya gimana lagi,"tuturnya.

Pihaknya juga berharap pemerintah mengembalikan status Terminal Ubung, sehingga bus AKAP datang lagi dan terminal ini ramai lagi. "Lihat saja kami pak. Sudah terminal sepi, penumpang juga ikut sepi. Dan lihat itu deretan kios pedagang yang biasanya ramai sekarang sudah pada tutup dan pindah ke Terminal Mengwi," ketusnya, seraya menunjuk kios pedagang yang pada tutup di areal Terminal Ubung yang sudah ditinggalkan pemiliknya.

Salah satu pedagang yang masih bertahan, Bu Tuti, mengungkapkan  ia tetap membuka dagangan nasi beserta lauk pauknya demi menyambung hidup. Meski Terminal Ubung sudah sepi dan beberapa pedagang memilih pindah ke Terminal Mengwi, namun ia tetap bertahan membuka warungnya karena sudah memiliki pelanggan. "Memang penghasilan jauh menurun pak. Jauh jika ada bus AKAP, penumpang yang biasanya menunggu keberangkatan makan di warung saya. Nah sekarang saya hanya mengandalkan pelanggan saja," tandasnya.