Diposting : 10 August 2018 18:55
I Wayan Sudarma - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Pemangku Pura Bukit Tengah Banjar (Dusun) Tinggan Desa Pakraman Plaga, Badung saat menggelar salah satu prosesi serangkaian ritual Pecaruan Pemahayu Jagat yang yang dilangsungkan di Pura itu, Kamis (8/8) lalu.
BALI TRIBUNE - Berharap terhindar dari bencana, umat Hindu di Bali menggelar ritual memohon kehadapan Tuhan diberikan keselamatan. Hal yang sama dilakukan tatkala Bali mengalami guncangan gempa berkekuatan 7 SR yang berpusat di Lombok, NTB, Minggu (5/8) lalu.
 
Seperti yang dilakukan krama Dusun Tinggan Desa Pakraman Plaga Badung, Kamis (8/8) lalu. Agar diberikan keselamatan atas bencana gempa yang melanda tanah air belakangan ini, warga setempat menggelar ritual Pecaruan Pemahayu Jagat di Pura Bukit Tengah banjar setempat.
 
Untuk diketahui, akibat guncangan gempa berkekuatan 7 SR itu, sejumlah bangunan di Dusun Tinggan roboh. Satu diantaranya adalah, Balai Pemaruman di Pura Bukit Tengah banjar setempat.
 
Menurut Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung untuk wilayah Desa Plaga, I Wayan Rusdika, ritual itu bertujuan untuk memohon keselamatan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa,red).
 
Adapun sarana upakara yang digunakan pada ritual dimaksud berupa, Caru Eka Sata, sorohan kuning dengan rayunan putih kuning dengan lauk terasi mentah dan bakal buah pisang.
 
Sesajen dimaksud dipersembahkan kehadapan Sang Kala Rubuh dan Sang Hyang Ibu Pertiwi sebagai sarana memohon perlindungan dihindarkan dari segala dampak buruk akibat bencana gempa.