Diposting : 5 September 2017 15:52
Redaksi - Bali Tribune
garis polisi
Keterangan Gambar: 
GARIS POLISI – Lokasi tewasnya pasutri Jepang tampak dipasangi garis polisi.

BALI TRIBUNE - Pasangan suami istri asal Jepang, Matsubasa Nurio (76) dan  Matsuba Hiroko (76) ditemukan tewas terpanggang di dalam rumah kontrakan di Lingkungan Buana Gubug Perumahan Puri Gading 2 Blok F 1 Nomor 6 Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Senin (4/9) pukul 11.30 Wita. Belum diketahui penyebab terbakarnya pasutri usia lanjut ini. Namun dugaan awal keduanya menjadi korban pembunuhan. Untuk menghilangkan jejak, pelaku membakar korban.

Informasi yang berhasil dihimpun kemarin, tidak ada seorang pun mengetahui secara pasti insiden tewasnya kedua korban. Pasalnya, kondisi gerbang rumah dalam keadaan terkunci. Hanya saja, saat ada insiden kebakaran di lantai II rumah milik Sri Eti Sulaiman (47) itu, anak angkat korban, Abdul Salman (48) menghubungi kedua korban pada pukul 11.00 Wita dengan maksud mengajak makan siang. Namun nomor telepon kedua korban tidak aktif. 

Selanjutnya ia datang ke rumah korban namun pintu gerbang dalam keadaan terkunci. Ia terkejut ketika melihat ke lantai II ada asap yang terbakar. Ia kemudian berteriak minta tolong pada warga untuk melaporkan pada klian banjar. Setelah petugas datang, saksi kemudian masuk ke rumah dan menemukan orang tua angkatnya itu sudah meninggal. Posisi kedua korban saat itu sudah dalam keadaan gosong. Korban Matsubasa Nurio berada di bawah ranjang, sedangkan Matsuba Hiroko berada di atas ranjang yang sudah terbakar. "Saat itu api sudah padam dan hanya kepulan asap saja, " ungkap seorang petugas. 
Polisi yang menerima laporan langsung turun ke TKP. Di TKP, petugas menemukan mobil DK 1088 OM dengan dua pintu sebelah kiri terbuka dan tutupan bensin dalam keadaan terbuka serta satu dompet warna hitam berisi satu NPWP atas nama korban.

Menurut sumber tadi, di lantai II ditemukan  korban dalam keadaan terbakar serta ada ceceran darah. Beberapa bagian tubuh korban terdapat luka benda tumpul. Koban tidak bisa dikenali wajahnya. "Kita juga belum bisa mastikan korban dibunuh atau bunuh diri. Kalau di lokasi memang terdapat beberapa kejangalan. Tapi, tentunya harus melalui pendalamaan oleh tim," tutur sumber yang tidak mau namanya dikorankan ini.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo mengatakan, sampai saat ini pihak kepolisian tidak bisa berandai-andai atas tewasnya dua wisatawan asal negeri Sakura itu. Pihaknya masih melakukan penyelidikan dan mengaku masih mengorek keterangan sejumlah saksi.

"Sampai saat ini, kita masih memeriksa empat orang saksi di Polsek. Saksi yang dimintai keterangannya adalah AS (anak angkat korban), pembantu, sopir dan teman dekat korban," terangnya.

Pihaknya juga masih melakukan olah TKP. Hanya saja, sejauh ini dihentikan lantaran terkendala gelap gulita. Pemeriksaan akan dilakukan kembali pada Selasa (5/9) pagi. Sehingga, jenazah kedua korban masih berada di lokasi tempat kejadian.

Dari pemeriksaan awal, ada beberapa titik yang terbakar, seperti kasur, sebagaian lemari. Selain itu, dua kamar di lantai II serta satu kamar mandi dilantai I juga ikut terbakar. "Untuk bercak darah yang ditemukan didalam lokasi, masih diperiksa oleh pihak Labfor," kata mantan Kapolres Gianyar ini.

Untuk mendalami berbagai kemungkinan, Polresta Denpasar juga berkoordinasi dengan K-9 Polda Bali untuk mengendus adanya jejak-jejak mencurigakan. Pasalnya, tetangga korban mengaku melihat seorang pria di halaman rumah pada Minggu malam pukul 23.00 Wita. Pria tersebut, menurut tetangga rumah korban sempat memainkan senter. Hanya saja, kondisi lingkungan yang senyap membuat saksi engan keluar atau menyapa. "Saya justru pergi dan meninggalkan lokasi. Soalnya saya sendiri di sini (rumah di samping lokasi)," tutur seorang warga. 

Sementara pembantu korban, Ni Nengah Nari (40) menerangkan, dirinya baru mengetahui tewasnya sang majikan setelah warga beramai-ramai mendatangi lokasi kejadian. Sehingga, wanita asal Karangasem ini datang ke TKP pada pukul 13.00 Wita untuk mencari tahu kebenaran informasi itu.

Diceritakannya, dirinya memang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah yang dikontrakan oleh korban sejak bulan November tahun 2015 silam. Hanya saja, ia bekerja selama 2 jam sehari. Pun saat musibah yang menimpah majikannya itu, ia datang ke lokasi pada Senin (4/9) pukul 08.00 Wita untuk bekerja seperti biasa.