Diposting : 14 November 2017 21:10
Djoko Purnomo - Bali Tribune
Patung
Keterangan Gambar: 
Anak Agung Ngurah Gede Widiada

BALI TRIBUNE - Keberadaan puri di Kota Denpasar sangat menunjang program wisata budaya yang saat ini sedang digencarkan oleh pemerintah, sayangnya pemerintah kota maupun provinsi belum memberikan perhatian maksimal terhadap keberadaan puri sebagai salah satu aset pariwisata cukup penting.

Menurut Penglingsir Puri Peguyangan Denpasar, Anak Agung Ngurah Gede Widiada, di Kota Denpasar ada sekitar 10 puri, tiga di antaranya tergolong puri besar (Puri Pemecutan, Puri Satria dan Puri Kesiman) namun peran puri belum dirasakan karena perhatian pemerintah yang minim.

Memanifestasikan puri sebagai objek wisata harus dicari potensi peninggalan sejarah dan rekam jejak puri selama ini serta tokoh puri yang memiliki potensi dan keteladanan yang mampu dijadikan prestasi atas peran sertanya dalam sejarah perjuangan dan kehidupan di Kota Denpasar.

“Seperti dibuatnya patung tokoh puri di sudut Br. Tansiat ataupun di sudut Puri Pemecutan. Patung sebagai simbol puri dalam perang suci Puputan Badung, mencerminkan keberanian dan kemuliaan puri beserta rakyat Badung dalam membela harkat dan martabat melawan penjajah. Ini perwujudan dari cinta Tanah Air,” urai Widiada yang ditemui di Puri Peguyangan, Denpasar Utara, Senin (13/11).

Anggota DPRD Kota Denpasar dari Partai Nasdem ini mengatakan, kini puri sudah menjadi tempat pengayom dan pelayan umat. Seperti di Puri Peguyangan yang diberi peran sebagai pemangku desa (kehormatan melayani tugas religius oleh umat) di lingkup Pekraman Peguyangan) bahkan puri bisa menjadi ruang tumbuhnya demokrasi, edukasi serta sosial politik. Sedemikian pentingnya peran puri, Widiada berharap perhatian lebih dari pemerintah kota maupun provinsi agar aset puri tersebut tidak hilang.

Widiada mencontohkan, tokoh seniman besar sidik jari yakni AAN Gede Pemecutan yang menjadikan puri sebagai ikon pusat seni melukis dengan sidik jari, kemudian Puri Peguyangan yang telah melahirkan tokoh antropologi besar yang mampu mengembangkan pendidikan kajian budaya di Universitas Udayana dan membangun perpustakaan di purinya adalah potensi puri yang bisa dikembangkan menjadi wisata edukasi.

“Semua potensi puri dipadukan dengan potensi lingkungan masyarakat bisa dikreasi menjadi potensi pariwisata baru. Prinsipnya, harus ada kontinuitas  informasi agar puri tidak sebatas rumah tinggal keluarga ningrat tetapi ada manajemen sosial dan aktivitas budaya yang bisa terus diaktualisasikan oleh generasi puri dalam konteks zamannya,” paparnya.

Jika kehidupan puri tetap survive dan adaptif terhadap kemajuan dan perkembangan yang terjadi serta didukung oleh sinergitas relasi sosial dan budaya, kata Agung Widiada--tokoh Puri Peguyangan ini, maka puri akan menjadi wadah aktivitas sosial dan budaya yang bisa menopang pariwisata Kota Denpasar.