Diposting : 25 August 2016 11:35
ayu eka - Bali Tribune
hotel
Keterangan Gambar: 
Pengamanan di pintu masuk salah satu hotel di Bali.

‎PELAKU industri pariwisata Bali mengharapkan adanya pengamanan secara berkelanjutan di kawasan-kawasan wisata yang ramai didatangi turis. Hal tersebut dilontarkan Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali, I Ketut Ardana di Denpasar, Rabu (24/8) pasca terjadinya ledakan bom di Phuket – salah satu kota wisata populer Thailand – beberapa waktu lalu.

Menurut Ardana, meski kota wisata populer Negeri Gajah Putih tersebut diserang serangkaian ledakan bom namun beritanya tidak begitu meluas. “Nah itu perbedaannya dengan kita. Kalau di Thailand biasanya cepat sekali bisa meredam pemberitaan. Tidak sama dengan kita seperti bom Bali 1, dulu lama sekali diberitakan, ditayangkan berulang-ulang di TV,” ujarnya.

Kendati peristiwa tersebut belum berpengaruh terhadap kunjungan turis Thailand ke Bali, Ardana berharap Bali agar tetap gencar berpromosi dan meningkatkan pengamanan. “Walupun ada sangat kecil sekali, tidak signifikan,” imbuh Ardana. Dia pun memperkirakan akan terjadi pengalihan destinasi dari wisatawan negara lainnya karena masih merasa khawatir mengunjungi Thailand.

Menurutnya, kemungkinan wisatawan yang mengalihkan destinasi wisatanya ke Bali karena adanya kesamaan karakteristik dengan Phuket yaitu sama-sama memiliki budaya dan alam. “Kalau kejadiannya di Phuketnya memang pasti akan terjadi pengalihan destinasi mungkin pindah ke Bangkok atau Pattaya jauhnya mungkin bisa jadi ke Bali. Tapi tidak signifikan,” jelas Ardana.

Untuk itu pihaknya mengajak seluruh pelaku pariwisata, masyarakat dan pihak terkait bersama-sama menjaga destinasi wisata Bali yang telah dikenal masyarakat dunia agar tidak mengalami hal serupa. “Mari kita sama-sama jaga keamanan. Tidak mungkin ada turis yang mau jalan-jalan ke daerah atau destinasi yang rawan keamanannya,” ujarnya.

Dikatakan Ardana, soal keamanan ini yang perlu terus menjadi perhatian. Meski pengamanan disebutkan Ardana sudah sejak dulu dilakukan namun penerapannya di lapangan belum maksimal. Pengamanan ini harus secara terus menerus dilakukan berkelanjutan bukan hanya di saat ada isu keamanan saja.

“Kalau ada yang mencurigakan langsung lapor. Memang pengamanan sudah dilakukan tidak boleh hangat-hangat tai ayam. Dulu setelah bom di Kedonganan ketat sekali penjagaannya tapi sekarang lembek. Harus terus diperketat penjagaannya tidak boleh terhenti. Hotel-hotel juga begitu, termasuk GMnya, siapapun keluar masuk hotel itu harus diperiksa,” harapnya.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali,Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), menyatakan bahwa beberapa hotel di Bali sudah menerapkan Sistem Managemen Pengamanan Hotel (SMPH) yang merupakan bentuk kerjasama antara PHRI Bali dengan Polda Bali.