Diposting : 11 August 2017 21:19
redaksi - Bali Tribune
Brimob
Keterangan Gambar: 
Sketsa wajah terduga pelaku penganiayaan dan perampasan senjata anggota Brimob Polda Bali Brigadir Ida Bagus Suda Suwarna.

BALI TRIBUNE - Untuk mengungkap identitas tiga orang terduga pelaku penganiayaan dan perampasan senjata SS 1 milik anggota Brimob Brigadir Ida Bagus Suda Suwarna di halaman Parkir Hotel Ayana, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, tim gabungan dari Polda Bali membuat sketsa wajah ketiga terduga pelaku.

Dalam sketsa itu terungkap jika para pelaku diduga memiliki perawakan Timur Tengah. Bahkan, penyidik sudah berkoordinasi dengan pihak Imigrasi untuk melakukan pencekalan terhadap tiga terduga yang diduga masih berada di Bali ini.

Informasi yang berhasil dihimpun Bali Tribune kemarin, pihak kepolisian sudah menyebarkan sketsa wajah terduga pelaku. Penyebaran foto untuk memperkecil ruang gerak pelaku. “Sudah ada dibuat sketsa. Itu dari keterangan saksi dan juga korban serta analisa rekaman kamera pengawas,” ungkap seorang petugas.

Petugas kepolisian yang dibentuk khusus untuk mengungkap kasus ini sudah melayangkan surat pencekalan terhadap WNA yang diduga terlibat dalam kasus perampasan dan penganiayaan tersebut. “Sudah kok (surat pencekalan). Dugaan awal terduga masih berada di Bali,” tutur sumber yang tidak mau namanya dikorankan ini.

Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose menerangkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan TKP dan saksi yang berjumlah lima orang, pihaknya sudah mendapatkan gambaran untuk membuat sketsa terduga pelaku. Hanya saja, jenderal bintang dua di pundak ini enggan merinci apakah pelaku merupakan WNA atau WNI.

“Pelakunya masih dalam pengejaran. SOP yang kita tempuh mulai dari TKP yang berhubungan dengan saksi dan juga korban sendiri. Saat ini sudah mengarah pada pembuatan sketsa,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I, Ngurah Rai, Ari Budjanto mengaku bahwa pihaknya sudah mendapatkan permintaan dari Polda Bali prihal pencekalan terhadap beberapa WNA. Permintaan itu dilayangkan penyidik pada Rabu (9/8). Hanya saja, ia engan merinci kewarganegaraan yang dicekal dan totalnya.  “Kalau koordinasi memang sudah ada. Tapi, ini kan masih perlu pendalaman lagi. Untuk data-datanya ada di kantor, saat ini saya masih pelatihan di Jakarta,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telefon, Kamis malam.