Diposting : 10 July 2018 15:10
Komang Arta Jingga - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
LEPAS HANTU - 15 ekor burung hantu ke alam liar di Subak Merta Tempek Soka Candi Banjar Dinas Soka Sengganan, Penebel, Tabanan, Senin (9/7).
BALI TRIBUNE - Untuk memerangi hama tikus, Kelompok konservasi burung hantu Tyto Alba Umawali untuk Tani (Tuwut), kembali melepasliarkan 15 ekor burung hantu ke alam liar di Subak Merta Tempek Soka Candi Banjar Dinas Soka Sengganan, Penebel, Tabanan, Senin (9/7).
 
Ketua Kelompok Tuwut I Made Jonita mengatakan, program pelepasan tersebut digagas sejak tahun 2013 silam dan telah melepasliarkan burung hantu ke habitatnya sebanyak tiga kali. “Burung hantu ini awalnya kita dapatkan dari alam liar. Kemudian anakkan tersebut kita latih dan setelah siap kita lepaskan,” ujarnya.
 
Adapun tujuan dari pelepasan tersebut, tambahnya, yakni untuk menannggulangi hama tikus yang menyerang tanaman padi. “Burung hantu yang pertamakali kita lepaskan, dalam hitungan empat bulan itu betul-betul berubah. Jadi awalnya kena serangan tikus dan sejak ada burung hantu, 80 persen sudah balik normal,” sebutnya.
 
Sementara terkait tempat yang dijadikan pelepasan, menurutnya, lokasi merupakan daerah hulu dan dekat dengan hutan. Sehingga diharapkan dapat menyebar ke daerah lainnya.
 
Sedangkan Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Bali, I Nyoman Suastika mengatakan, tikus merupakan salah satu organisme pengganggu tanamam (OPT). Dan dengan pelepasan tersebut, dapat menekan populasi tikus yang merupakan salah satu musuh petani. “Kami tekankan, agar petani di Bali senantiasa menerapkan konsep pengendalian hama terpadu dengan memperhatikan musuh alami hama yakni salah satunya adalah burung hantu yang bisa menekan serangan hama tikus,” pungkasnya.