Bali Tribune, Sabtu 19 Agustus 2017
Diposting : 29 July 2017 14:03
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Kertalangu
Keterangan Gambar: 
Wisata desa Kertalangu yang pembenahan dan perhatian.

BALI TRIBUNE - Taman rekreasi maupun Daya Tarik Wisata (DTW) di Bali yang dikelola oleh pemerintah maupun desa adat diminta untuk segera melakukan pembenahan. Hal ini untuk menambah daya saing dengan DTW dan taman rekreasi yang dikelola oleh swasta.

Kondisi tempat-tempat wisata yang dikelola swasta dibandingkan dengan pemerintah dan masyarakat setempat memang ada ketimpangan dari sisi jumlah kunjungan wisata. Pasalnya, obyek wisata yang dikelola swasta lebih tertata, bersih dan fasilitasnya pun lengkap serta banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik.

Khusus untuk DTW yang kurang diminati wisatawan akan dipromosikan oleh  Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi (PUTRI) Bali setelah dilakukan pembenahan-pembenahan. Demikian disampaikan Ketua Umum DPD PUTRI Bali, I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha usai pelantikan pengurus DPD PUTRI Bali masa bhakti 2018-2021 di Denpasar, Jumat (28/7).

Menurutnya hal itu dilakukan dengan harapan dari sisi kunjungan wisatawan dapat bersaing dengan obyek-obyek wisata yang dikelola pihak swasta. Namun sebelum dilakukan promosi, PUTRI Bali meminta pengelola tempat-tempat wisata itu untuk segera melakukan evaluasi dan pembenahan. "Satu adalah promosi. Sebelum promosi kita membenahi produk," ucapnya yang akrab disapa Gek Inda.

Dijelaskannya, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi kenapa DTW tersebut sedikit dikunjungi wisatawan diantaranya terkait lokasi, aksesibilitas dan produk yang ditawarkan. "Kenapa dia (tempat wisata) itu kurang pengunjung. Apakah jaraknya terlalu jauh. Apakah infrastrukturnya memadai. Apakah produk itu cukup menarik turis. Kalau memang enggak, mungkin kita (PUTRI) Bali bisa bantu untuk kreativitas di situ untuk menciptakan produk yang lebih menarik dengan menurunkan tim kreatif," jelasnya.

Dalam hal ini ditegaskan Gek Inda, PUTRI Bali siap memberikan solusi kepada DTW yang kurang mendapat respon kunjungan dari wisatawan. "Kita tidak bisa memaksakan kehendak juga, di sini sepi tapi dipaksakan yang sepi harus dijual kita harus lihat solusinya inventory dulu kenapa sepi. Apakah memang show-nya boring, harganya tidak sesuai. Jadi harus ditata dengan bekerjasama. Setelah produknya bagus kita tinggal angkat secara promosi," tegasnya.

Diakui Gek Inda memang tidak semua DTW yang dikelola masyarakat setempat sedikit dikunjungi wisatawan. Dia mencontohkan, Monkey Forest, Uluwatu dan Tanah Lot hingga kini masih menjadi destinasi favorit bagi wisatawan. "Tergantung daya tarik, menarik enggak. Kalau menarik pasti dikunjungi. Kalau tidak menarik ya kita bikin jadi menarik. Ayo kita kerja," cetusnya.