Bali Tribune, Sabtu 18 November 2017
Diposting : 30 October 2017 21:46
Redaksi - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Plt. Dirut RS Bali Mandara, dr. Bagus Dharmayasa menandatangani MoU bersama Kepala RS Bhayangkara Denpasar Polda Bali, AKBP dr. IGA Diah Yahmini, Sp.THT disaksikan oleh Kapolda Bali, Irjen Pol Petrus R. Golose.
BALI TRIBUNE - Polda Bali dengan Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) sepakat kerjasama dalam bidang kesehatan. Itu setelah dilakukan penandatanganan MoU antara RS Trijata Denpasar Polda Bali dengan RS Bali Mandara dalam Seminar Kesehatan Terapi oksigen hiperbarik 2017 RS Bhayangkara Denpasar di Mapolda Bali, Minggu (29/10) kemarin.
 
Kapolda Bali, Irjen Pol Petrus Golose mengatakan, penandatanganan kesepakatan bersama antara RS Bhayangkara dengan RS Bali Mandara dalam rangka mewujudkan Bali sebagai wisata kesehatan melalui layanan terapi oksigen hiperbarik. "Rumah Sakit Bali Mandara terletak di daerah Sanur yang merupakan salah satu tempat wisata, sehingga kami melakukan kerjasama, apabila ada pasiennya yang harus mendapatkan hiperbarik, maka bisa dirujuk ke RS Trijata," ungkapnya.
Dikatakan jendral bintang dua ini, sebagai bentuk kerjasama tersebut dalam waktu dekat Polda Bali akan mendatangkan alat hiperbarik di RS Trijata. Sebab menurut jendral asal Sulawesi Utara ini, alat ini sangat bermanfaat bagi pihak kepolisian dalam menunjang operasional. "Sebagai pimpinan, saya sangat mendukung pengadaan alat ini kemungkinan bulan Desember kita sudah punya. Sebab, kita punya Direktorat Polisi Perairan dan Direktorat Lalu Lintas sehingga menghirup oksigen kotor atau sakit bisa berobat disini (hiperbarik-red). Selain berguna bagi kepolisian, juga bagi masyarakat apalagi Bali sebagai daerah wisata sehingga dapat menarik turis - turis untuk berlibur di Bali," ujarnya.
 
Sementara Plt. Direktur Utama RS Bali Mandara, dr. Bagus Dharmayasa menyambut baik kerjasama tersebut. Antara RS Bali Mandara dengan RS Trijata Polda Bali akan saling menunjang. Sebab, Sanur sebagai salah satu daerah wisatawan yang terdapat banyak aktifitas diving. "Lokasi kami di Sanur sangat strategis dan merupakan banyak nelayan serta wisatawan yang diving, nanti kami dengan Polda Bali dalam hal ini RS Trijata saling mendukung. Kalau ada pasien kami yang harus mendapatkan hiperbarik, akan dirujuk ke RS Trijata. Dan Pak Kapolda sangat intens," ungkapnya.
 
Terapi hiperbarik adalah terapi yang dilakukan dengan menghirup oksigen 100 persen di dalam ruangan tertutup dengan tekanan atmosfer tinggi dan terkendali. Pada tahun 1940-an, terapi ini dikembangkan oleh miiter untuk mengobati para prajurit Angkatan Laut yang mengalami penyakit dekompresi atau gangguan keracunan nitrogen yang timbul akibat menyelam pada kedalaman tertentu atau menyelam terlalu lama. Sejak saat itu pula terapi hiperbarik telah dibuktikan dalam beberapa penelitian klinis mampu meningkatkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki dan meregenerasi sel tubuh.
 
Prinsip pengobatan, tekanan diperlukan agar oksigen dapat secara efektif larut ke dalam cairan plasma darah. Dengan meningkatnya tekanan, maka ukuran molekul oksigen akan berkurang dan menciptakan lingkungan oksigen yang lebih padat. Molekul oksigen si dalam alveolus atau membran paru menjadi lebih terkonsentrasi sehingga memungkinkan molekul oksigen lebih banyak dipindahkan ke dalam darah secara difusi, sehingga memenuhi cairan plasma darah dengan meningkatnya tekanan, suhu juga akan meningkat. Kegunaan terapi hiperbarik mengobati beberapa kondisi, seperti anemia, tuli mendadak, abses otak, ulkus kaki diabetik, kecantikan, dekompresi pada penyelam, embolisme gas arterial, sindrom kompartemen pada kasus bedah tulang, kebugaran dan buta mendadak.