Diposting : 27 March 2018 13:43
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
proritas
VAKSIN - Upaya pencegahan rabies di tengah tingginya populasi HPR yang setiap tahunnya semakin meningkat salah satunya melalui vaksinasi.

BALI TRIBUNE - Rabies hingga kini masih menjadi zoonosis yang sangat mengkhawatirkan di wilayah Bali, termasuk di Kabupaten Jembrana. Tingginya jumlah populasi hewan penular rabies (HPR) yang tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk merawat hewan peliharaan secara baik dan benar menjadi salah satu hambatan dalam upaya pengentasan terhadap rabies. 

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana Anak Agung Ngurah Mahadikara Sadhaka, Senin (26/3). “Gaya pemeliharaan anjing yang  masih kurang baik, masih banyak yang mengaku ngubuh (memiliki) tapi malah tidak miara (dirawat) dan dilepasliarkan, bahkan bayak anak anjing yang dibuang karena anjing betina kurang diminati. Yang liar inilah yang bahaya dan bisa menularkan keanjing rumahan,” jelasnya.  

Ia menyebutkan, populasi HPR jenis anjing setiap tahunnya meningkat 10 persen. Pada tahun 2018 ini estimasi popolasi anjing di Jembrana mencapai  44.500 ekor atau bertambah sebanyak 3.216 ekor dibandingkan populasi tahun 2017 sebanyak 41.285 ekor. Menurutnya, populasi anjing akan selalu bertambah kendati dilakukan eliminasi, “Kelahirannya tinggi karena jumlah betina, satu betina bisa melahirkan lebih dari 2 ekor bahkan bisa dua kali setahunnya,” ungkapnya.

Sebagai penanggulangannya, anjing yang lepasliar ini harus divaksinasi kendati diakui pihaknya kerap kesulitan menangkap, bahkan tidak sedikit pemiliknya yang kesulitan menangkap anjing peliharaannya. Untuk menangani anjing liar ini pihaknya memiliki 6 tim yang masing-masing terdiri dari lima orang, yakni seorang vaksinatur, seorang  pencatat, dan tiga orang penangkap anjing. Tim beranggota tenaga non PNS yang disebut Tim A itu bertugas memvaksinasi anjing yang lepas liar. “Tim A ini langsung dibiayai dari APBD Provinsi Bali,” ungkapnya.

Sedangkan untuk vaskinasi anjing rumahan, pihaknya memiliki 20 personel yang terbagi dalam 5 Tim Reguler. Bahkan ia menyebut dari 22 sampel yang dikirim sejak awal tahun ini ke Laboratorium Balai Besar Veteriner (BB Vet) Denpasar, satu sampel dari gigitan Kamis (15/3) telah dinyatakan positif.

Dari kasus gigitan positif yang dialami korban Desak Made Arsenu (42) di Banjar Berawantangi, Desa Tukadaya, Melaya, itu juga merupakan anjing yang dilepasliarkan dan pemiliknya Nengah Sudiana mendapatkan anak anjing usia 7 bulan itu dari anjing yang diliarkan di pinggiran hutan sehingga tidak tersentuh vaksinasi. “Sampel positif itu anjingnya masih kecil, didapat dipinggiran hutan sehingga tidak tersentuh vaksinasi  sebelumnya. Betis kiri korban saat itu tiba-tiba digigit oleh anjing yang memang sudah mengalami perubahan perilaku saat korban duduk dijineng tetangganya,” tutur Ngurah Mahadikara Sadhaka.

Dari kasus yang terjadi tersbut, selain pemerliharaan, menurutnya yang terpenting diketahui juga asal muasal anjing dan mobilitas anjing. Sebagai tindak lanjutnya pihaknya melakukan vaksinasi selektif terhadap 21 anjing lepas liar diwilayah banjar setempat. Dari 34 zona merah diseluruh Bali pada tahun lalu, di Jembrana terdapat 7 zona merah dan dua diantaranya zona merah aktif dan kasus gigitan positif tersebut terjadi  kembali pada zoan merah. “Yang zona merah itu Gumbrih, Penyaringan, Penghyangan, Tukadaya, Warnasari dan dua desa masuk zona merah aktif yakni Yeh Sumbul, Batu Agung. Sekarang Tukadaya zona merah berulang,” sebutnya.

Karena tingginya populasi HPR ini, pihaknya selalu menjaga ketersedian stok vaksin rabies. Pada tahun 2018 pihaknya dari APBD Kabupaten Jembrana menyediakan 2.500 dosis. Berkaca pada vaksinasi tahun lalu yang mencapai  40.269 ekor, untuk memenuhi vaksi sesuai etimasi populasi tahun ini pihaknya telah mengajukan ke Pemprov Bali dan Pemerintah Pusat. Sedangkan dari Januari hingga Maret sebelum pengadaan menurutnya kebutuhan vaksi termasuk untuk pelayanan kesehatan hewan saat car frre day setiap minggunya dipenuhi dari sisa stok vaksi tahun lalu. Pihaknya pekan ini akan mulai menggelar vaksinasi massal yang dilaksanakan seluruh Bali. “Sudah dicanangkan Vaksinasi Masal di Bali, Jumat (23/3) lalu dan mulai Rabu (28/3) akan dimulai di Jembrana” jelas Ngurah Mahadikara.

 Vaksinasi masal yang dilaksanakan menyasar seluruh HPR disetiap banjar dan lingkungan ini nantinya terlebih dahulu akan memrioritaskan 7 wilayah zona merah yang menjadi prioritas dan menyusul dilakukan wilayah lainnya sehingga seluruh desa tersentuh vaksinasi. “Vaksinasi kali ini kami targetkan minimal  80 persen dari total populasi. Akan kami lakukan diseluruh banjar dan tujuh desa zona merah akan kami proritaskan terlebih dahulu. Kami harapkan masyarakat pemilik HPR bisa berperan aktif sehingga minimal zona merah tidak bertambah lagi di Jembrana,” tandasnya.