Bali Tribune, Selasa 23 Januari 2018
Diposting : 17 November 2017 21:03
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
Kopi
Keterangan Gambar: 
RACIK - Proses peracikan kopi hingga siap minum.

BALI TRIBUNE - Pertumbuhan pariwisata semestinya mampu memberikan dampak pada perekonomian masyarakat kecil hingga ke pelosok pedesaan. Bahkan para pelaku usaha kecil di pedesaan pun mengharapkan produk yang dihasilkan mampu diserap untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Seperti produk hasil pertanian lokal terutama kopi yang menjadi salah satu komoditi paling diperlukan untuk menunjang keperluan pariwisata.

Pasalnya hampir seluruh masyarakat di dunia gemar mengkonsumsi kopi, begitu pula wisatawan yang datang ke Bali pastinya tertarik untuk menikmati kopi Bali. Peluang ini harus dimanfaatkan oleh masyarakat Bali untuk menghasilkan produk kopi dengan kualitas tinggi sehingga mampu memenuhi pasar wisatawan. Tentunya dalam pemasaran produk kopi petani Bali ini mengalami kendala karena kurangnya akses.

Karena itu diperlukan peran pelaku industri pariwisata maupun pemerintah serta pengelola kawasan pariwisata yang memiliki sejumlah hotel-hotel besar seperti Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Nusa Dua. Demikian disampaikan Ni Nyoman Budiani, Ketua Kelompok Wanita Tani Sari Amerta Giri yang menghasilkan produk kopi Wanagiri saat peningkatan kapasitas (capacity building) usaha mitra binaan ITDC bagi klaster petani kopi di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Kamis (16/11).

Dia mengatakan bahwa produk kopi Indonesia dan Bali khususnya termasuk produk kopi unggulan dan cukup terkenal di kanca internasional. Sehingga pihaknya meminta pemerintah melalui perusahaan-perusahaan BUMN untuk mengangkat kopi Bali ini. Selain kopi Kintamani, kata dia, produk kopi di Kabupaten Buleleng juga memiliki citarasa gurih dan nikmat yang mampu bersaing dengan kopi dari negara lainnya.

Sehingga kopi Wanagiri, Buleleng ini bisa diberdayakan dalam memenuhi kebutuhan wisatawan baik untuk sovenir maupun dikonsumsi selama berada di Pulau Dewata. Budiani menjelaskan produk kopi yang dihasilkan kelompok tani Desa Wanagiri ini jenis robusta dengan kapasitas produksi 1,2 sampai 1,5 ton per bulan. Guna mengambil pasar yang lebih luas, saat ini produk kopi tersebut dikemas menarik agar bisa bersaing dengan produk kopi ternama. “Selain dikemas, produk kopi kami juga berkualitas karena petik merah,” ujarnya.

Direktur Strategi Korporasi dan Keuangan ITDC, Jatmiko Santosa, mengatakan, petani kopi wajib mengenal dan mengetahui teknik pembuatan kemasan produk sehingga ke depannya mampu mengemas hasil produk olahan kopinya dengan baik serta menarik. Apabila nantinya produk kopi yang dikembangkan oleh petani ini mampu memenuhi kriteria itu pihaknya akan membantu pemasarannya di 19 hotel berbintang di Nusa Dua dan Mandalika Lombok.

“Para petani kopi perlu dibekali kemampuan pemasaran yang lebih baik melalui pembuatan kemasan produk yang lebih baik dan menarik,” cetus Jatmiko. Menurut Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia mencapai lebih dari 8 persen setiap tahunnya, jauh di atas pertumbuhan permintaan kopi secara global pada tahun 2016 hanya 2,5 persen. Tingkat konsumsi tersebut diperkirakan akan terus tumbuh, melihat saat ini konsumsi kopi masyarakat Indonesia masih relatif kecil hanya 1,2 kilogram per kapita per tahun dibandingkan Amerika Serikat yang telah mencapai 4,3 kilogram dan Jepang 3,4 kilogram per kapita per tahun.