Diposting : 17 November 2017 20:38
I Made Darna - Bali Tribune
prostitusi
Ilustrasi Lokalisasi Pelacuran

BALI TRIBUNE - Kawasan prustitusi di Aseman Kuta Selatan dari dulu hanya digertak oleh pemkab Badung untuk ditertibkan. Bahkan rencana dibersihkan dari kawasan pelacuran, hanya gertak sambal. Harus diakui lokalisasi ini begitu kuat dan sudah ada puluhan tahun sejak 1990.

Terkait itu, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta memerintahkan lokalisasi Aseman dan Gunung Lawu di Nusa Dua ditutup. Bupati bahkan menargetkan akhir tahun ini dua tempat esek-esek ini sudah harus nersih.

Untuk memuluskan penyegelan lokalisasi ini, Giri Prasta bahkan sudah bertemu dengan pemilik. Intinya pihak pemilik bersedia kawasan tersebut diberangus.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Badung IGAK Suryanegara yang dikonfirmasi, Kamis (16/11)  menjelaskan,  Bupati Giri Prasta minta agar tidak ada  kawasan prostitusi di Badung. Tim yustisi dibawah Sat Pol PP juga sudah diminta untuk mengambil langkah-langkah penertiban. “Kami sudah menghadap Bapak Bupati dan diminta mengambil langkah-langkah penertiban sesuai dengan SOP (standar operasional prosedur), untuk menertibkan kawasan prostitusi seperti Aseman dan Gunung Lawu,” ujarnya.

Khusus untuk lokalisasi Aseman dan Gunung Lawu, kata Suryanegara,  Bupati bahkan telah bertemu langsung dengan pemilik lahan. Dalam pertemuan tersebut, Bupati meminta pemilik tidak lagi mengontrakan untuk kegiatan-kegiatan negatif, dan dialihkan untuk kegiatan positif. Bupati juga siap memfasilitasi dan mendukung beberapa permohonan pemilik lahan yang mengarah kepada kegiatan positif mendukung program pemerintah.

"Bapak Bupati sudah bertemu pemilik lahan. Intinya pemilik bersedia tidak mengontrakan lagi lahannya untuk itu (tempat lokalisasi, red)," jelasnya.

Mengenai "kupu-kupu malam" yang selama ini mengais rejeki di Aseman dan Gunung Lawu, Bupati memerintahkan Dinas Sosial melakukan pembinaan dan kemudian dipulangkan ke daerahnya masing-masing. "Untuk pekerjanya akan dibina oleh Dinas Sosial. Kemudian dipulangkan ke daerah asal," jelas Suryanegara.

Terkait rencana penertiban ini, pihaknya mengaku sudah melayangkan teguran pertama kepada pemilik. "Sudah kita layangkan teguran. Dari 35 wisma yang beroperasi (di lokalisasi Asemen dan Gunung Lawu), sebagian sudah siap menutup sendiri operasinya," katanya.

Ia menargetkan akhir tahun ini dua lokalisasi ini harus sudah bersih. Untuk itu, pihaknya mengimbau pemilik lahan dan wisma agar segera menutup operasinya sebelum dilakukan penertiban paksa. "Kita harapkan  Desember ini lokalisasi di dua kawasan tersebut sudah tidak ada praktek prostitusi lagi," tukasnya.