Diposting : 15 August 2017 20:26
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
lontar
Keterangan Gambar: 
Pengunjung pameran diajak mengenal dan menulis lontar

BALI TRIBUNE - Kendati terkenal sebagai daerah heterogen, namun tidak sedikit masyarakat Jembrana yang memiliki warisan nasakah sastra kuno. Bahkan hingga satu tahun dilaksanakan pendataan ke sejumlah desa dan kelurahan di Jembrana, ratusan naskah kuno salah satunya yang berbentuk lontar telah terdata. Dari katalog naskah pada setiap desa/kelurahan di Kabupaten Jembrana  yang diperoleh dari Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Jembrana, hingga kini baru terdata sebanyak 312 lontar yang kini tersebar di seluruh kecamatan.

Koodinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Jembrana, I Made Dwi Adipraya (25) ditemui di Stand Pameran Industri dan Kerajinan (Inkra) di areal parkir Pemkab Jembrana Senin (14/8) mengatakan dari jumlah lontar yang telah terindentifikasi di sejumlah desa/kelurahan itu, terdapat 41 lontar yang kondisinya rusak. Jumlah tersebut baru hasil identifikasi yang dilakukan sejak awal tahun 2017 ini.

“Penyuluh Bahasa Bali mulai turun kemasing-masing kecamatan untuk pedataan sejak Desember 2016 dengan penjajagan ke bendesa pakraman, kelihan adat serta para tokoh adat dan spiritual,” jelas penggiat sastra asal Kelurahan Baler Bale Agung, Negara ini.

Dia mengatakan, selama ini lontar tidak pernah dimanfaatkan hanya diwarisakan tanpa ada yang mengetahui isinya. Menurutnya awal tahun 2017 mulai dilakukan identifikasi dan konservasi. Pihaknya melakukan pendataan jenis-jenis lontar yang ada dimasyarakat.

Dari ratusan lontar yang telah masuk katalog tersebut dapat dikategorikan dalam empat jenis yakni lontar usada yang berisi teori pengobatan, lontar wariga yang berisi padewasan (hari baik), lontar kadiatmikan yang mempelajari ilmu kebatinan dan lontar babad yang berisi catatan sejarah.

Lontar-lontar tersebut pada umumnya bertuliskan aksara Bali kendati ada juga yang menggunakan bahasa Jawa kuno (kawi). Bersamaan Indentifikasi itu juga dilakukan konservasi atau pemeliharaan terhadap lontar baik yang dimiliki keluarga, griya maupun pura.

“Banyak sekali lontar-lontar yang pudar sehingga harus dihitamkan kemabli dengan rang kemiri dan diolesi minyak sereh sebagai  pelapis dan pengawet,” jelasnya.

Ia juga mengakui belum semua lontar yang telah teridentifikasi tersebut bisa dikonservasi. “Saat ini baru sekitar 50 persen yang telah kami konservasi. Identifikasi dan konservasi akan terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga jumlah lontar dalam katalog pasti akan bertambah,” imbuhnya.