Bali Tribune, Rabu 22 November 2017
Diposting : 8 November 2017 20:11
San Edison - Bali Tribune
PDIP
Keterangan Gambar: 
BAHAS CALON - Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, bersama pengurus DPD PDIP Bali dan DPC PDIP se-Bali usai pembahasan persiapan Deklarasi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, di Kantor DPD PDIP Provinsi Bali, Selasa (7/11) sore.

BALI TRIBUNE - PDIP dijadwalkan akan mengumumkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung pada Pilgub Bali 2018 mendatang, pada tanggal 11 November 2017. Menariknya, pengumuman ini tidak dilakukan di Bali, namun justru di Kantor DPP PDIP di Jakarta.

Hal ini memunculkan spekulasi bahwa pasangan calon yang akan direkomendasikan PDIP justru di luar nama-nama yang telah mengikuti penjaringan. Bahkan, ada kemungkinan yang direkomendasikan juga bukan pasangan yang santer disebut-sebut selama ini, yakni Wayan Koster-Tjokorda Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace.

Spekulasi ini menguat, lantaran Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri justru mengutus Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto untuk lebih awal ke Bali. Hasto ditugaskan menemui tokoh-tokoh dan sesepuh PDIP, sekaligus nama-nama yang sebelumnya mengikuti penjaringan di internal PDIP termasuk Koster dan Cok Ace.

Bukan hanya itu, dalam rapat persiapan Deklarasi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang digelar di Kantor DPD PDIP Provinsi Bali, Selasa (7/11), Cok Ace yang digadang-gadang sebagai calon wakil gubernur mendampingi Wayan Koster, justru tak hadir.

Menariknya, berbagai spekulasi ini ditepis oleh Hasto, dalam keterangan pers usai rapat tersebut. Ia membenarkan bahwa dirinya ditugaskan oleh Megawati untuk bertemu dengan sejumlah tokoh dan sesepuh PDIP di Bali.

"Saya sudah bertemu Pak Adi Wiryatama, Cok Rat, Wayan Koster, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, dan beberapa kepala daerah dalam kapasitas sebagai calon. Tetapi tugas saya hanya mendengarkan masukan dan menyampaikan pesan Ibu Ketua Umum. Sebelum ada keputusan, jajaran partai diharapkan memahami itu. Dan ketika itu diputuskan, kepentingan nasional dikedepankan," kata Hasto.

Ia pun membantah keras bahwa hal itu (kedatangannya ke Bali,red) adalah bagian dari upaya meredam gejolak internal yang dipicu karena rekomendasi. Ia menegaskan, tidak ada konflik di internal PDIP sehingga harus diredam.

"Saya ditugaskan bukan untuk menetralisir konflik. Tidak ada konflik di PDIP. Kita memiliki kesadaran berorganisasi. Kita kedepankan gotong-royong," kelitnya.

Soal absennya Cok Ace dalam rapat tersebut, Hasto berkilah bahwa ini adalah rapat dengan struktur partai untuk persiapan deklarasi. Tetapi kenapa malah figur yang akan didelarasikan tidak hadir? Apa ini juga signal, Cok Ace tidak direkomendasikan?

"Tafsir boleh-boleh saja. Kami memang bertemu struktur. Kan fit and proper test sudah dilaksanakan," jawab Hasto, sedikit diplomatis.