Bali Tribune, Rabu 22 November 2017
Diposting : 28 October 2017 12:43
Redaksi - Bali Tribune
ritual
Keterangan Gambar: 
Bupati IGA Sumatri bersama Ida Pedanda Ketut Pinatih Pasuruan serta tokoh masyarakat di Karangasem bercengkerama usai pelaksanaan ritual Guru Piduka di Pura Penataran Agung, Desa Pakraman Nangka, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Jumat (27/10) kemarin

BALI TRIBUNE - Berbagai upaya niskala terus ditempuh Pemkab Karangasem guna memohon keselamatan dan meredam segala bencana yang terjadi serta meminimalkan dampak dari ancaman erupsi Gunung Agung, yang saat ini masih dalam fase kritis dengan level awas. Salah satunya ritual Guru Piduka (Permohonan maaf) yang diselenggarakan di Pura Penataran Agung, Desa Pakraman Nangka, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Sukra Kliwon Sungsang, Jumat (27/10) kemarin.

Ritual Guru Piduka ini dihadiri Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri dan sejumlah tokoh masyarakat Karangasem, diantaranya I Gusti Made Tusan, Bendesa Pakraman Budakeling Ida Wayan Jelantik Oyo,  dan segenap pangempon pura setempat.
 
Hadir pula bersama bupati, Kadis Pariwisata Karangasem I Wayan Astika, Kadis Kebudayaan I Putu Arnawa, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ni Made Santikawati, Kabag Kesra I Gede Basma, Camat Bebandem I Gusti Ayu Wija Sri Anjani, dan Ketua Panitia Pembangunan AA Bagus Jelantik Sanjaya.
Persembahyangan  dan seluruh prosesi ritual ini berlangsung dengan khusyuk dan dipuput oleh Ida Pedanda Ketut Pinatih Pasuruan dari Gria Tengah, Banjar/Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem dan Ida Pedanda Gede Jelantik Padang dari Gria Padang, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem.
 
Pura Penataran Agung, Desa Pakraman Nangka merupakan pura tempat berstananya Ida Bhatara Gunung Agung, di lereng Gunung Agung bagian Selatan.
Dengan digelarnya ritual guru piduka ini diharapkan dampak dari erupsi Gunung Agung bisa diminimalkan, dan tidak sampai memakan korban jiwa serta tidak terjadi kerugian besar dengan harapan lahar bisa langsung mengalir dan terbuang ke laut.

Ida Pedanda Pinatih Pasuruan usai muput upacara mengatakan, tujuan upacara guru piduka, agar Ida Bhatara Gunung Agung memberkati keselamatan kepada umat sedharma dan keselamatan terhadap semesta ini.
“Segala kesalahan umat sedharma, yang diperbuat selama ini baik disengaja maupun tidak sengaja, di sini secara suntuk mohon maaf melalui upacara ritual guru piduka ini,” kata Ida Pedanda Pinatih Pasuruan.
 
Tokoh Masyarakat Karangasem, I Gusti Made Tusan dalam kesempatan itu juga berharap, agar ancaman bahaya besar yang tengah menghadang keselamatan umat sedharma atas status awas Gunung Agung, bisa dicegah secara niskala dengan menggelar berbagai upacara ritual.
 
“Pemerintah telah berupaya menjauhi bencana itu dengan mengevakuasi warga, kali ini dimbangi secara niskala,” ungkap Gusti Made Tusan.
Hal senada juga diungkapkan Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri, menurutnya sejak Gunung Agung status siaga, atau level III, per Senin (18/9) lalu, pihaknya terus meyakinkan warga masyarakat dari KRB III, KRB II dan KRB I agar mengungsi.

“Kali ini kami mengimbangi, dengan mohon keselamatan secara niskala, agar bencana yang terjadi tidak seluas yang dipetakan BNPB,” ucapnya.