Diposting : 25 July 2016 10:22
Arta Jingga - Bali Tribune
Kecelakaan
Keterangan Gambar: 
MASUK SUNGAI – Bus Pahala Kencana di dasar Tukad Yeh Otan sebelum dievakuasi. Bus ini masuk ke dalam sungai pada Minggu (24/7) dini hari karena rem blong.

Tabanan, Bali Tribune

Kecelakan bus terjadi Minggu (24/7) dini hari. Pahala Kencana yang dikemudikan oleh Tuto Sunyoto (65), terjun bebas ke Tukad Yeh Otan sedalam 10 meter, di Jalur Jurusan Denpasar - Gilimanuk tepatnya pada kilometer 39.500 memasuki Banjar Dinas Bajera Utara, Desa Bajera, Kecamatan Selamadeg, Kabupaten Tabanan.

Akibatnya, penumpang bus yang berjumlah 3 orang mengalami nasib apes. Dua orang dinyatakan patah kaki dan satu dinyatakan meninggal dunia karena lambat pertolongan. Berdasarkan keterangan sopir, Toto Sunyoto, saat ditemui di rumah sakit mengatakan, kejadian naas ini terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari.

Saat itu Bus dengan No Polisi, D-7897-AJ datang dari arah Denpasar menuju Gilimanuk. Namun naas saat melintasi jembatan Tukad Yeh Otan tersebut, tiba-tiba sopir tidak bisa menguasi laju kendaranya sehingga hampir menabrak pembatas jembatan sebelah kiri. Namun agar tidak menabrak sehingga sopir dengan cepat banting setir ke kanan, celakanya, karena remnya tidak berfungsi dengan baik alias blong, akhirnya bus terjun bebas ke dalam sungai.

“Laju kendaraan tidak cepat, namun saat jalan turunan saya mau nabrak pembatas kiri saya banting setir kanan, namun karena rem blong bus langsung jatuh ke sungai,” ungkapnya. Toto menambahkan saat kejadian dirinya tidak dalam keadaan mengantuk, begitu pula keadaanya remnya sebelum berangkat ke Bali sudah dilakukan penyetelan di Bandung sebanyak 2 kali, bahkan setiba di Bali tepatnya Gilimanuk sudah disetel.

Hanya saja alat yang diperlukan belum datang sehingga rem tidak sangat bagus berfungsi, namun masih aman digunakan. “Karena alat bagian rem belum datang, terpaksa saya terus setel,” imbuhhnya. Dikatakan saat itu dirinya mengalami nasib tragis, karena dirinya satu-satunya korban yang tergencet selama 3 jam. Saat itu suasana dalam keadaan gelap tidak ada yang menolong. “Kaki saya tergencet, sempat berkata tolong-tolong namun tidak ada yang menolong, dan subuh baru saya ditolong warga itupun saya sudah lemas,” lanjutnya.

Dijelaskan sopir yang beralamat Jalan Babakan Sari III, No 196 RT 05 RW 15, Kecamatan Kiaca Condong, Bandung ini sebelumnya membawa penumpang ke Pelabuhan Benoa. Sekitar pukul 23.00 wita dirinya bersama kedua rekannya berangkat dari Benoa menuju Madura, karena saat itu ia diperintahkan bosnya untuk menjeput penumpang ke Madura menuju Jakarta. Namun apes, bus yang dikemudikan alami OC (Out Of Control) dan nyemplung ke sungai.

“Saya sebelumnya ngedrop penumpang ke Pelabuhan Benoa, habis itu diperintahkan sama bos ke Madura jemput penumpang,” ujarnya. Akibat kejadia ini karena ketiga korban alami luka serius langsung dibawa ke BRSUD Tabanan. Menurut Manager of Duty, dr Dendra Purana, pihaknya mendapatkan pasien korban bus jatuh berjumlah 3 orang. Adapun jumlah korban didalam bus warna kuning ini, yakni sopir bus Toto Sunyoto (65) yang mengalami patah ditulang kemaluan, ada jejas (lembab di ulu hati), patah kaki kanan karena tergencet selama 3 jam, luka robek pada lutut kanan serta robek pada bagian dahi sepanjang 3 cm.

Korban lainya sopir cadangan bus yang dinyatakan meninggal dunia yakni Dindin Saepudin, 48, alamat Graha Bukit RT II Blok L6/16 RT 003/024 Cilame, Kabuten Bandung. Korban dinyatakan meninggal karena alami cedera kepala berat. Kepala bagian belakang alami luka robek sepanjang 10 cm, luka kepala bagian atas selebar 7 cm, bagian dahi ada benjolan. Menurur dr Dendra dimana saat korban jatuh dalam keadaan pingsan dan kelelep di air sehingga lambat pertolongan.

“Kalau ini kemungkinan kelelep, sebab ia tubuhnya basah kuyup,” terang dr Dendra. Sedangkan sang kernet Haris Purnama sidiq alami patah paha kanan yang dinamakan patah terbuka, patah ditulang pinggul, serta ada pula keluhan nyeri di dada dan leher. “Korban sempat ada riwayat pingsan sebelum dibawa ke BRSUD,” imbuh dr Dendra.

Saat dikonfirmasi, Kasatlantas Polres Tabanan, AKP Gede Eka Putra Astawa, membenarkan kecelakaan bus yang terjun di jembatan tukad yeh otan bajera. Menurut kecelakaan tersebut kecelakaan tunggal dan murni karena OC. Menurutnya, kemungkinan sang sopir saat kejadian merasa kelelahan, sehingga bisa terjadi kecelakaan. “ Ini kecelakaan tunggal dan murni karena OC,” ungkapnya.

Ditambahkan Putra Astawa, bus malang tersebut datang dari arah Denpasar setelah mengantar penumpang di Pelabuhan Benoa. Namun naas saat berada di TKP, sang sopir tidak bisa mengendalikan kendaraannya dan jatuh dari jembatan. Saat kejadian bus dalam keadaan koson cuma ada sopir, kernet dan sopir cadangan. “ Jumlah korbannya tiga orang, dua orang mengalami luka-luka dan patah tulang serta satu orang meninggal dunia,” ujarnya.

Saat ini pihak kepolisian sedang mengepakuasi bus dari sungai untuk dinaikan ke atas. Sebelumnya sudah dilakukan evakuasi dengan menggunakan crean namun tidak mampu, dan saat ini sedang menunggu bantuan crean lagi yang lebih besar agar bisa mengangkat badan bus dari sungai. “ Saat ini kita sedang menunggu crean yang lebih besar untuk meengevakuasi badan bus, kemungkinan nanti tengah malam baru bisa kita lakukan evakuasi agar tidak mengganggu arus lalulintas” ujarnya.