Diposting : 21 April 2018 14:33
Djoko Purnomo - Bali Tribune
IGN Oka Darmawan dan Ketut Suwandi
Keterangan Gambar: 
IGN Oka Darmawan dan Ketut Suwandi

BALI TRIBUNE - Sekum KONI Bali, IGN Oka Darmawan mengatakan, sejak 70 tahun lebih Pekan Olahraga Nasional (PON) dihelat di Indonesia, hanya wilayah Sunda Kecil (Bali-Nusra) saja yang belum pernah ditempati hajatan tersebut.

“Pulau Sumatera sudah pernah, yakni Sumsel dan Riau, Pulau Jawa sudah tak terhitung mulai dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan juga sudah pernah disinggahi PON. Tinggal Bali-Nusra (Sunda Kecil) meliputi Bali, NTB dan NTT yang belum,” ujar Oka Darmawan di KONI Bali, Jumat (20/4).

Dikatakan, Bali-NTB sedang ikut bidding (mencalonkan diri) sebagai tuan rumah PON XXI/2024 dan harus bersaing dengan Sumut-Aceh yang juga mencalonkan diri sebagai tuan rumah bersama serta Kalimantan Selatan. Penentuan tuan rumah PON XXI tahun 2024 dilakukan Selasa (24/4) mendatang di Jakarta.

KONI Bali yang menjadi ujung tombak Pemerintah Provinsi Bali, kata dia, sudah menyiapkan strategi untuk memenangkan bidding nanti. Berbulan-bulan telah bergerilya ke provinsi-provinsi untuk mendapat dukungan kepada wakil Sunda Kecil ini.

"Tanggal 24 April nanti bisa dilihat siapa yang menjadi arang, abu atau emas. Bali dan NTB sudah menyatakan sangat siap dan optimis. Kalau boleh ditakar, 1.000 persen sudah siap dengan pemilihan nanti," ujar Oka Darmawan saat mendampingi Ketum KONI Bali, I Ketut Suwandi kepada wartawan.

Bali dan NTB memang memiliki kans tahun ini untuk menjadi host. Aceh dan Sumut diprediksi menjadi lawan paling kuat di tanggal 24 April nanti. "Optimis boleh, tapi jangan berlebihan. Memang saat kami silaturahmi ke KONI-KONI lainnya, mereka memang mendukung Bali. Tapi kan tidak tahu ke depannya. Tiap detik bisa berubah," tegasnya.

Soal proses voting, nantinya ada 34 suara yang berasal dari provinsi se-Indonesia. Namun, meskipun calon tuan rumah menempati ranking I dalam pengumpulan suara, goal atau kepastian siapa menjadi tuan rumah itu ada di tangan Menpora.

"Jadi, kami berharap supaya Bali dan NTB bisa menempati rangking I dan Menpora memang menilai layak. Ibaratnya menang elegan," imbuh Oka Darmawan.

Apalagi, kans itu didukung dengan tak pernah absennya Bali mengutus patriot olahraganya menjadi wakil Indonesia di kancah dunia. Bahkan ada nama-nama seperti Maria Londa dan Oka Sulaksana yang namanya sudah terkenal harum di mata dunia dengan membawa nama Merah-Putih.

Begitu juga faktor di luar dunia olahraga. Ambil contoh Provinsi Bali. Beragam kegiatan pertemuan kepala-kepala negara dunia sering dihelat di pulau ini. Nampaknya, dengan hal-hal itu, sudah sewajarnya Bali diberikan kesempatan menjadi penyelenggara.

"Dan saya tekankan sekali lagi, mewanti-wanti kepentingan pragmatis dalam pemilihan nanti. Artinya, mewaspadai kejadian di luar teknis yang membuat Bali yang unggul dari segi SDM dan venue bisa kalah nantinya," kata Suwandi menimpali.

Begitu juga soal proyek pribadi yang diakui pihaknya tidak ada sama sekali. "Bagaimana ada kepentingan pribadi. Misal kalau Bali jadi tuan rumah PON 2024, toh masa jabatan kami sudah habis di tahun 2021. Kami hanya ingin mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Ini untuk memikirkan visi dan misi demi olahraga di Bali dalam mengisi pembangunan," tandas keduanya.