Diposting : 10 August 2018 19:13
Agung Samudra - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
Ni Made Ciri Rimbawati
BALI TRIBUNE - Tahun ajaran 2018/2019 SMKN 1 Susut membuka jurusan baru, yakni program keahlian perhotelan. Meski fasilitas pendukung belum ada, sekolah yang dipimpin Ni Made Ciri Rimbawati ini cukup banyak mendapatkan siswa.  
 
Made Ciri saat dikonfirmasi tidak menampik bilang fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran masih kurang, seperti ruang praktek siswa. Ada beberapa program keahlian yang belum memiliki ruang praktek seperti pemasaran, akutansi, dan perhotelan. Khusus untuk program keahlian perhotelan memang baru tahun ini dibuka. "Perhotelan memang baru kami buka, namun siswa yang daftar cukup banyak, saat ini kami memiliki 63 siswa perhotelan," ungkapnya, Kamis (9/8).
 
Pihaknya menegaskan membuka program keahlian baru tidaklah muda, ada proses yang harus dilalui. Sebelum diusulkan pihaknya membuat penelitian kecil di masyarakat, sejauh mana program tersebut dibutuhkan/diminti. "Kami lakukan survey dulu ke desa-desa, memang program ini didukung, dan dukungan disertai bukti pernyataan dari kepala desa," terangnya seraya mengatakan membuka program ini tidak asal-asalan. 
 
Lanjutnya, proses untuk keluarnya SK, membutuhkan waktu setahun. Selain dukungan masyarakat, sekolah berani mengajukan pembukaan program baru ke Dinas Pendidikan Provinsi karena sekolah sudah memiliki tenaga pendidik. "Kalau tidak ada tenaga pendidik kami belum berani mengajukan, saat ini kami memiliki dua guru yang mengajar produktif (mata pelajaran program keahlian)," ujarnya. 
 
Ditanya belum adanya ruang praktek untuk program keahlian perhotelan, Made Ciri menyampaikan bila pihaknya sudah menjalin MoU dengan salah satu perguruan tinggi pariwisata di Bangli. Adapula kerjasama dengan beberapa restaurant dan hotel di Kintamani. "Kalau ada praktek siswa diarahkan ke kampus tersebut. Untuk praktek tidak dilakukan setiap hari," jelasnya. 
 
Kemudian karena program keahlian perhotelan masih baru dan belum terakreditasi, maka sekolah belum bisa melaksanakan uji kompetensi secara mandiri, dan harus bergabung dengan sekolah lain seperti di SMKN 2 Bangli. Pihaknya menambahkan bila fasilitas sudah disiapkan lebih dulu, khawatir tidak dapat siswa, atau peminat sedikit. "Dibuka dulu, dari siswa yang diperoleh maka sekolah bisa mengajukan pengadaan fasilitas pendukung lainya," ungkapnya.
 
Dengan dibukanya program baru, berdampat positif bagi sekolah, dimana jumlah siswa bertambah. "Dengan program baru ini berdampak pula pada program yang telah ada. Calon siswa awalnya datang untuk mencari informasi tentang perhotelan setelah masuk ternyata banyak program yang dimiliki calon siswa ini pun tertarik dengan program yang lain," sebutnya. 
 
Tidak hanya kekurangan ruang praktek, sekolah masih kekurangan ruang untuk guru. Made Ciri menyebutkan ruang guru dan ruang kepala sekolah masih memanfaatkan ruang kelas, dan untuk mensiasati pihaknya memasang skat. "Ruang kami pasang skat, agar tidak terlalu bercampur. Sedangkan untuk ruang praktek yang kurang kami manfaatkan ruangan yang ada, jadi kegiatan pembelajaran tetap berlangsung," tutupnya.