Bali Tribune, Sabtu 21 Juli 2018
Diposting : 2 June 2018 13:40
Djoko Moeljono - Bali Tribune
bom
Keterangan Gambar: 
SAFARI -- Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, di sela Safari Ramadhan dan buka puasa bersama, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto memberikan santunan kepada anggota dan keluarga Polri yang menjadi korban ledakan bom di Surabaya beberapa waktu lalu.
BALI TRIBUNE - SELAMA bulan Ramadhan 1439 H ini hendaknya menjadi momen untuk menahan hawa nafsu dan untuk menjadi Muslim yang lebih baik, maka melalui soliditas TNI-Polri harus mampu merangkul para alim ulama dan masyarakat luas untuk bersatu.
 
“Karena kita tidak ingin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang indah dan kita cintai bersama ini hancur karena radikalisme. Kita bisa cegah kalau selalu peduli terhadap lingkungan kita. Jangan terjebak pemahaman sempit dan jangan salah memahami isi Al Quran,” ujar Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Surabaya, kemarin.
 
Hal itu disampaikan Panglima TNI di sela menghadiri Safari Ramadhan dan buka puasa bersama dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bertajuk, “Membina Ukhuwah untuk Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan dalam Bingkai NKRI” di Mapolrestabes Surabaya, Jalan Sikatan 1, Krembangan Selatan Surabaya. Turut hadir, Panglima Komando Armada (Pangarmada) II Laksamana Muda TNI Didik Setiyono, SE., MM.
 
Diikuti oleh sekitar 2.250 prajurit dari satuan TNI-Polri di wilayah Surabaya dan Malang, juga perwakilan dari Forkopimda Provinsi Jatim. Acara silaturahmi Panglima TNI dan Kapolri tersebut diawali dengan doa dan dzikir bersama, dilanjutkan dengan bacaan tilawatil Quran oleh Peltu SAA Musolihin, dirangkai penyerahan tanda kehormatan kenaikan pangkat luar biasa serta pemberian santunan kepada anggota dan keluarga Polri yang menjadi korban ledakan bom di Surabaya beberapa waktu lalu.
 
"Sebagai aparat, kita harus dapat membentengi diri dari pengaruh radikalisme maupun aksi-aksi terorisme, kepedulian orang tua terhadap pengaruh radikalisme dari media sosial (medsos) dapat meminimalisir akan pengaruh negatif, sebab banyak yang terpengaruh dari medsos dan melakukan pertemuan-pertemuan tertutup. Oleh karena itu, peran Babinsa dan Babinkamtibmas harus berkoordinasi ketat dan bekerja sama dengan ulama dan tokoh masyarakat untuk menangkal ideologi tersebut," jelas Panglima TNI.
 
Diharapkan, melalui kegiatan ini dapat membawa berkah bagi bangsa dan negara. Selain mengucapkan turut berduka cita dan bela sungkawa atas serangan teroris, Panglima TNI juga menegaskan bahwa serangan tersebut adalah jalan yang salah, karena perbuatan tersebut dapat merugikan dan menyakiti orang lain, termasuk anak-anak yang tidak berdosa.
 
“Radikalisme dapat tumbuh di sekitar kita, maka waspadalah. Dengan cara yang benar dalam mengambil tindakan preventif, tentu kita tidak ingin negeri ini menjadi seperti negara-negara konflik. Semoga silaturahmi kali ini memberi inspirasi positif dalam membangun bangsa dan negara yang kita banggakan,” harap Marsekal Hadi Tjahjanto.
 
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menambahkan, apa yang terjadi di Surabaya pada 13 Mei lalu membuat semua orang tersentak, termasuk sejumlah personel Polisi yang menjadi korban dalam peristiwa tragis itu. Kota Surabaya yang selama ini dikenal aman dan kondusif, namun dengan fenomena baru terorisme yang melibatkan keluarga, kaum perempuan, dan anak-anak dibawah umur, maka peristiwa ini mengagetkan masyarakat Jatim.
 
“Kini Surabaya kembali tenang dan dibantu oleh seluruh Pemda di Jatim, Surabaya yang sangat maju menjadi indah oleh tangan dingin Ibu Wali Kota Tri Rismaharini. Kita harus memikirkan secara simultan menyelesaikan dan memutus akar permasalahan. Melihat aksi terorisme tidak seketika dapat diselesaikan karena proses mengadopsi ideologi itu dapat memakan waktu berminggu-minggu, berbulan bahkan bertahun-tahun,” ujar Kapolri.
 
Mereka kata Kapolri, juga merupakan korban ideologi radikal, untuk itu rencana aksi yang sistematis antara TNI-Polri dan elemen masyarakat diharapkan menjadi solusi kedepan melalui pemetaan dengan langkah-langkah soft maupun keras. “Kita mengharapkan kepada Pemerintah pusat atau daerah untuk mengumpulkan stakeholder terkait guna meng-counter dan meng-hacking serta menghentikannya melalui dunia cyber,” tutur Kapolri.
 
Menjelang berbuka puasa, Prof Dr Ali Mashan Musa, MSi., selaku Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, memberikan tausiyah serta memimpin doa berbuka puasa dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Usai buka puasa dan sholat Maghrib, Panglima TNI memberikan bingkisan maupun tali asih kepada 100 Warakawuri dan 400 anak yatim piatu yang kemudian dilanjutkan dengan sholat Isya dan Tarawih berjamaah.
 
Pada kesempatan yang sama, Panglima TNI dan Kapolri bertemu dengan puluhan tokoh agama di Surabaya yang terdiri dari Ketua MUI Jatim, pimpinan pondok pesantren, pimpinan ormas Islam, sesepuh yayasan, serta beberapa Guru Besar Universitas Islam di Surabaya. Melalui kegiatan Safari Ramadhan Panglima TNI, Kapolri, dan Forkopimda ini diharapkan mampu meningkatkan dan memperkuat sinergitas TNI, Polri, dan Forkopimda di Jatim.
 
Hadir pula dalam acara tersebut, di antaranya Gubernur Jatim Dr H Soekarwo, SH., MHum., Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman, Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Machfud Arifin, Pangdivif-2 Kostrad, Danlanud Abdurahman Saleh, Pangkotama TNI AL Wilayah Surabaya, Pangkoarmada III, Kasarmada II, Danguspurla Koarmada II, sejumlah pejabat utama Koarmada II, serta Forkopimda Provinsi Jatim.