Bali Tribune, Rabu 13 Desember 2017
Diposting : 9 October 2017 19:33
Redaksi - Bali Tribune
pengungsian
Keterangan Gambar: 
PENGUNGSI - Suasana di posko pengungsian Pasar Seni Manggis, tampak rangka kayu untuk dinding shelter.

BALI TRIBUNE - Sampai saat ini ratusan ribu pengungsi masih bertahan di 143 titik pengungsian yang tersebar di seluruh kabupaten di Bali, kendati ribuan dari mereka akhirnya memilih pulang ke rumah mereka masing-masing dengan berbagai alasan, mulai dari tidak betah berlama-lama di pengungsian hingga alasan terhimpit masalah ekonomi dan kewajiban membayar utangh kriditan di Bank.

Sementara berbagai cara dilakukan oleh para relawan untuk membuat para pengungsi nyaman berada di tempat pengungsian, mulai dari menghibur  anak-anak pengungsi serta mengedukasi mereka dengan kegiatan belajar dan bermain, hingga menciptakan lokasi pengungsian agar bersih aman dan nyaman ditempati.

Seperti yang dilakukan oleh para relawan dari Muhammadiyah Desaster Management Centre (MDMC) di lokasi pengungsian Pasar Seni Manggis. Untuk memberikan kenyamanan bagi para pengungsi yang maasih bertahan, para relawan ini menyulap los pasar menjadi Shelter. Untuk membuat Shelter ini relawan MDMC mendatangkan ratusan batang kayu usuk dan ratusan lembar triplek tebal, sedangkan untuk pembuatan shelter sendiri dilakukan dengan melibatkan para pengungsi laki-laki yang memiliki keahlian dalam pertukangan. “Kita cuman bisa membantu low partisi untuk membuat Sheter, karena kalau malam anginnya kencang sehingga para pengungsi mengeluh kedinginan,” ucap Fitriyanto, salah satu relawan MDMC, Minggu (8/10).

Shelter itu juga dibuat untuk menghalau cipratan air hujan yang biasanya akan membuat basah lantai los pasar yang selama ini menjadi tempat tidurnya para pengungsi. Selain itu untuk anak-anak pengungsian yang masih sekolah, para relawan juga memberikan jasa antar jemput anak-anak pengungsian untuk berangkat kesekolah terdekat. “Pagi pukul 06.00 anak-anak sudah bangun dan kita siapkan sarapan. Setelah itu mereka kita antar kesekolah terdekat dan kita bantu pendampingan agar mereka bisa menyesuaikan diri disekolah tempat mereka belajar,” sebut Sarnia, relawan MDMC lainnya yang khusus mengurusi pendidikan dan pemulihan psikologis anak pengungsian.

Untuk kegiatan anak-anak dipengungsian, pihaknya memang memiliki tenda khusus yang steril dan dijaga kebersihannya. Ditenda itu berbagai kegiatan digelar seperti belajar bersama, bermain serta kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pemulihan psikologis anak pengungsian agar mereka tidak bosan dan merasa betah dipengungsian seperti dilingkungan rumah mereka sendiri.