Bali Tribune, Selasa 19 Juni 2018
Diposting : 6 February 2018 15:25
Redaksi - Bali Tribune
longsor
Keterangan Gambar: 
EVAKUASI - Petugas dan warga saat mengevakuasi jasad korban dari timbunan senderan longsor.

Dua warga Lingkungan Roban, Kelurahan Bitera, Gianyar tertimbun senderan longsor saat gotong-royong membangun pondasi senderan  pura, Senin (5/2) sore. Satu orang berhasil diselamatkan dengan luka kepala berat, dan seorang lagi tewas mengenaskan setelah  tertimbun lebih dari dua jam.

Setelah berhasil diselamatkan dari timbunan longsor, I Ketut (51), warga Lingkungan Roban, Bitera,  langsung dilarikan ke IRD RSU Sanjiwani Gianyar, sore kemarin.  Korban terus merintih kesakitan dengan luka robek di bagian kepala.  Korban juga kesulitan bernafas, karena bagian dadanya terhimpit bongkahan beton.  

Lebih naas lagi  dialami rekannya,  I Wayan Suwiska (48), yang sulit dikeluarkan dari timbunan material senderan yang longsor, di areal Pura Pucak Sari, Bitera. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama warga pun berupaya keras melakukan penyelamatan.  Namun kondisi tebing yang sangat labil, membuat proses evakuasi terhambat.

Sebelum kejadian,  korban dan 80 warga lainnya melaksanakan gotong-royong membangun pondasi senderan pura.  Mereka  tidak menyadari jika di musim hujan ini, kondisi tebing sangat labil. Senderan pura yang akan diperkuat dengan pondasi baru itupun akhirnya tergerus dan longsor menimbun dua warga.

“Kejadiannya sangat cepat, kami berupaya menyelamatkan diri masing-masing. Namun sayang dua rekan kami terjebak dan terhimpit,” sesal rekan korban, I Wayan Sukerta.   

Hingga dua jam, korban I Wayan Suwiska akhirnya berhasil dikeluarkan dari timbunan. Namun sayang, korban sudah tidak bernyawa lagi  dengan luka berat di bagian kepala serta sejumlah bagian tubuhnya.

Wakil Bupati Gianyar, I Made Agus Mahayastra  yang memantau langsung proses evakuasi menyesalkan kejadian ini.  Terlebih saat warga membangun fasilitas tempat suci.  Pihaknya pun berjanji akan memberi santunan kepada korban  dan berharap kecelakaan kerja ini tidak terjadi lagi.

 

“Kami sangat bersedih, terlebih musibah ini terjadi saat krama tulus ngayah. Namun atas kejadian ini, kita semua harus mengantisipasi kondisi alam. Terlebih di saat musim hujan seperti ini,“ wantinya.

Atas musibah ini pembangunan senderan pun dihentikan sementara. Terlebih  kondisinya sangat labil dan membahayakan pekerja. Sementara pihak pura akan segera menggelar upacara untuk mengembalikan kesucian pura.