Bali Tribune, Jumat 27 April 2018
Diposting : 26 September 2017 19:27
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
pengungsian
Keterangan Gambar: 
BELUM LAKU - Sapi-sapi milik pengungsi Gunung Agung di Jalan Akasia Denpasar yang hendak dijual. Namun meski dengan harga lebih murah, hingga sore kemarin belum ada yang laku.

BALI TRIBUNE - Derita warga  yang terpaksa mengungsi di Denpasar  pascastatus Gunung Agung level IV (awas), ternyata tak berhenti hanya di tempat pengungsian. Para pengungsi ini kini mulai kebingungan dalam mengurusi hewan ternak mereka. Pasalnya, mereka yang memiliki hewan ternak kesulitan mencari pakan ternak untuk hewan peliharaan mereka. Alhasil, para pengungsi ini pun terpaksa menjual hewan ternaknya.

Seperti yang terlihat di kawasan Jalan Akasia Denpasar Timur, Senin (25/9), sejumlah pengungsi mulai menjual sapi-sapi mereka di sebuah lahan kosong milik warga. Sedikitnya ada 24 ekor sapi yang rencananya dijual. Selain kesulitan mencari pakan ternak seperti rumput, para pengungsi ini memilih menjual sapi mereka agar mengurangi beban pikiran mereka.

"Saya terpaksa jual sapi karena sudah tidak ada pakan ternak. Kalau di tempat pengungsian juga susah, mending dijual karena supaya tidak kepikiran. Urus keluarga saja sudah susah apalagi ditambah urus ternak, yang penting keluarga selamat dulu, makanya sapinya mau dijual saja," ujar salah satu pengungsi penjual sapi, I Made Sadra, kemarin.

Dikatakan, pihaknya memiliki tiga ekor sapi yang akan dijual. Sapi tersebut merupakan satu-satunya harta benda yang dimiliki. Rencananya sapi-sapi itu dijual di desa tanpa perlu membawa ke Denpasar. Namun sayang, di kampung halamannya Banjar Uma Anyar Desa Bhuana Giri, sapi-sapi yang akan dijual ternyata ditawar murah.

"Kami cuma punya sapi ini saja. Maunya di jual di kampung tapi harganya murah. Kalau normal sapi yang ukuran sedang sekitar 11 juta. Tapi malah ditawar cuma 7 juta. Saya berharap ada yang beli dengan harga normal saja, itu sudah sangat membantu kami," ujarnya.

Dikatakan Sadra, selain dirinya ada juga kerabat lainnya yang juga mengalami nasib sama, rencananya menjual sapi di lokasi tersebut. Total ada 24 ekor sapi yang akan dijual. "Kami sudah bingung kalau tidak dijual mau dititipkan dimana lagi," ujar pria yang mengaku telah mengungsi di Kesiman di kos keluarganya sejak Jumat lalu ini.

Sementara pantauan wartawan memang terlihat ada puluhan ekor sapi dengan berbagai ukuran akan dijual di wilayah Jalan Akasia. Namun hingga sore hari belum terlihat satu pun sapi berhasil dijual. Bahkan hanya sedikit warga yang berminat untuk melihat atau bahkan menawar sapi-sapi tersebut. Hingga pukul 18.30 Wita, puluhan sapi itu masih  dititipkan di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar, I Gede Ambara Putra saat dikonfirmasi mengakui belum mengetahui informasi tersebut. Sebab, dari Dinas Pertanian berencana akan mencari pembeli agar sapi yang dijual pengungsi tidak dibeli dengan harga murah.

“Dinas mencarikan pembeli supaya tidak dibeli dengan harga murah. Tapi pengungsi yang bawa ternak ke Denpasar sampai saat ini tidak ada jual sapinya,”akunya.

Untuk hewan ternak pengungsi, Pemkot sudah memberikan lahan untuk menitipkan  hewan di Jalan Batur Sari Gang Tunjung Biru, Sanur Kauh. Menurutnya, sampai saat ini baru 41 ekor yang di tampung, dan hewan ternak  juga dalam keadaan sehat.

Dalam menindak lanjuti laporan ini, rencananya hari ini Dinas Pertanian akan memeriksa. Dan dia berharap sapi-sapi milik  para pengungsi tidak dijual dengan harga murah.