Diposting : 26 September 2017 19:34
Putu Agus Mahendra - Bali Tribune
KARANGASEM
BAWA PIARAAN - Warga Karangasem yang mengungsi ke rusah saauadaranya di Jembrana juga membawa harta benda berharga serta hewan peliharaannya.

BALI TRIBUNE - Ratusan warga Karangasem yang tedampak aktiftas vulkanis Gunung Agung yang mengungsi secara pribadi ke rumah-rumah sanak saudaranya di Jembrana terasa membawa kisah menarik. Selain tidak berdesak-desakan dalam sebuah tenda pengungsian umum, di Jembrana para pengngsi justru bisa membawa barang-barang berharga termasuk hewan peliharaan dari kampungnya.

Seperti yang tampak dirumah I Ketut Sudiana di Lingkungan Mertasari, Kelurahan Loloan Timur, Jembrana. Rumah warga asal Karangasem ini merupakan salah satu keluarga yang menampung pengungsi. Di rumah permanen ini ditampung keluarga Nyoman Suputra dari Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Ada sembilan jiwa ditampung di rumah keluarga ini, yakni Nyoman Supatra dan istrinya, Ni Ketut Puspawati (27) serta ketiga anaknya, Ni Wayan Widya Antari Asih (6), Ni Kadek Akila Tresna Asih (4), dan bayinya yang baru berusia satu bulan Ni Komang Tri Widiani Asih, bersama mertuanya Nyoman Rai, Wayan Suami, Nengah Rai Arta Yasa dan Ketut Karya Swastika.

Keluarga pengungsi ini juga membawa dua ekor anjing peliharaan mereka, salah satunya anjing ras golden bernama Binggo, serta sepuluh ekor ayam jago, 40 ekor bebek. Namun, karena kondisi perjalanan yang cukup jauh dari Karangasem menuju Jembrana pada Sabtu (23/9) lalu, serta padatnya arus lalu lintas, sehingga 20 ekor bebek yang mereka bawa mati. Keluarga ini juga sempat menjual 20 ekor bebek lainnya dengan harga yang tidak terlalu murah sebagai bekal saat menumpang dirumah keluarganya ini. Keluarga ini mengaku kasihan jika meninggalkan anjing serta unggasnya peliharaannya di rumah tanpa ada yang mengurusnya. 

Keluarga ini mengaku akan bertahan di rumah kerabatnya di Jembrana hingga situasi dan aktiftas vulkanis di kawasan Gunung Agung nantinya benra-benar dinyatakan benar-benar aman. "Rumah kami masuk rawan bencana dan selama masih di rumah Karangasem gempa terus terjadi. Bahkan segala macam hewan dan binatang sudah turun gunung. Kami khawatir jika Gunung Agung tiba-tiba meletus. Sehingga kami khawatir dan akhirnya mengungsi," jelas Ketut Puspawati.

Pengungsi lainnya, Nyoman Rai (71) juga mengaku trauma dengan kejadian tahun 1963. Saat itu kakek ini masih berusia remaja dan keluarga mereka juga mengungsi. "Dulu saya pernah mengungsi tahun 1963," katanya. 

Sejumlah keluarga pengungsi lainnya yang kini ditampung di rumah keluarga yang tersebar di lima kecamatan, ada beberapa anggota  saudaranya kembali kekampung halamannya untuk menyelamatkan harta benda agar bisa dibawa mengungsi ke Jembrana. Sejumlah pengungsi lainnya yang menumpang di sejumlah warga di  Kelurahan Loloan Timur mengaku khawatir dan berharap agar kondisi segera berlalu dan normal kembali.

Warga Karangasem yang mengungsi  ke Jembrana pasca peningkatan status Gunung Agung menjadi awas, kini setiap harinya semakin bertambah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana memastikan ratusan pengungsi dari Karangasem tidak ada yang ditampung di pengungsian melainkan sudah sejak awal direncanakan diajak tinggal oleh keluarga mereka yang ada di Jembrana. Seluruh pengungsi di Jembrana yang juga terdapat lansia dan bayi tidak ada terlantar, kesehatan mereka juga tetap diperhatikan.

Data yang diperoleh di Polres Jembrana hingga Senin (25/9) sudah tercatat 339 orang pengungsi, terdiri atas 151 laki-laki dan 188 perempuan. Ratusan jiwa ini tertampung tersebar di seluruh kecamatan. Masing-masing di delapan desa yang ada di Kecamtan Pekutatan sebanyak 178 orang, lima desa di Kecamatan Mendoyo sebanyak 68 orang, empat desa di Kecamatan Jembrana sebanyak 37 orang, tiga desa di Kecamtan Negara sebanyqk 15 orang dan di empat desa di Kecamtan Melaya sebanyak 41 orang.