Diposting : 23 October 2017 08:14
Bernard MB - Bali Tribune
BKKBN
Keterangan Gambar: 
DIALOG - Deputi KBKR BKKBN pusat dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com berdialog dengan PLKB Kab Buleleng.

BALI TRIBUNE - Tim BKKBN Pusat, dalam Rangka 14th Internasional Inter Ministerial Conference on Population and Development dan Penyusunan Panduan Pola Kerja di daerah Rawan Bencana, melakukan kunjungan ke tempat pengungsian Erupsi Gunung Agung di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleleng.

Deputi KBKR BKKBN pusat dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com menyampaikan bahwa kunjungan ini dilaksanakan selain untuk memberikan dukungan moral dan material kepada pada pengsungsi, juga memberikan KIE kepada masyarakat tentang program KKBKP. Listyawardani memberikan apresiasi terhadap penanganan pengungsi di desa Tembok.  “Penanganan pengungsi di wilayah ini sangat bagus, di mana para pengungsi tidak dimanjakan, tetapi diberdayakan. Mereka melaksanakan kegiatan rutinitas sendiri, mulai dari memasak dan mencuci dilakukan sendiri. Tugas relawan hanya membantu dalam pembagian logistik.” ujarnya.

Perbekel Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Astara menyampaikan terima kasih atas kunjungan tim BKKBN Pusat. Yudi sangat mengapresiasi pelaksanakan kegiatan Pelayanan KB. “Pengungsi dan masyarakat di wilayah ini sangat senang akan adanya pelayanan KB ini, karena memang akses untuk ber-KB agak jauh, karena letak puskesmas lumayan jauh dari lokasi pengungsian,” tuturnya.

Kata Yudi, total pengungsi yang ada di Desa Tembok sebanyak 6.045 jiwa, yang tinggalnya tersebar. Ada yang tinggal di Kantor Desa dan sebagian besar tinggal di rumah-rumah penduduk. Bagi yang tinggal di Kantor Desa, disediakan ruangan khusus untuk keluarga yang punya Balita. 

Pada kunjungan ini juga dilaksanakan kegiatan Pelayanan KB Gratus melalui mobil pelayanan bagi para pengungsi dan masyarakat di sekitarnya. Pada pelayanan tersebut, dapat terjaring sebanyak 20 peserta KB, di antaranya 3 peserta KB MOP,  4 peserta KB IUD, 8 peserta KB Implant dan 5 peserta KB Suntik.

Salah seorang peserta KB MOP, I Wayan Mertayasa yang merupakan warga dari desa Bon Dalem menyampaikan bahwa alasannya ikut Vasektomi (MOP) karena sudah tidak menginginkan anak lagi.