Diposting : 9 June 2017 19:21
Agung Samudra - Bali Tribune
I Nengah Sukarta
Keterangan Gambar: 
I Nengah Sukarta

BALI TRIBUNE - Pemkab Bangli (dalam hal ini Dinas Sosial) belum bisa merealisasikan bedah rumah tahun 2017 sampai memasuk bulan Juni. Seharusnya program bagi  warga miskin tersebut sudah terlaksana Bulan Mei, namun ditunda oleh Dinas Sosial, karena masih terkendala oleh persoalan tekhnis.

Kepala Dinas Sosial Bangli, I Nengah Sukarta, saat dikopnfirmasi belum terealisasinya program bedah rumah, Kamis (9/6),  tidak menampiknya. Dia mengungkapkan  penundaan itu dilakukan untuk menghindari persoalan hukum dikemudian hari. Menurutnya, ada kesalahan didalam pembuatan rekening. Seharusnya dalam rekening bantuan itu dibahasakan ke bansos, namun ditulis di  hibah. Kesalahan di perencanaan itu diketahui berdasarkan pemeriksaan BPK.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka Dinas Sosial merasa lebih baik menunda pelaksanaannya. Walaupun terlmbat, Sukarta menargetkan bulan Agustus depan   bedah rumah bisa direalisasikan. "Hanya memperbaiki redaksional  seperti yang diinstruksikan BPK, maka lebih baik kami tunda dulu , tapi bulan Agustus kami target sudah bisa terlaksana,” ujar mantan pejabat di Disdikpora Bangli ini seraya berharap agar calon penerima bedah rumah bisa memaklumi.

Paparnya  untuk tahun 2017  Bangli mendapatkan jatah bedah rumah 414 unit. Dari jumlah itu, 314 unit ditangani Pemprov Bali. Sedangkan dari Dinas Sosial Bangli  menangani 100 unit. Dari 100 unit itu tersebar di empat kecamatan, yakni di kecamatan Bangli 12 unit, kecamatan Kintamani 24 unit, kecamatan Susut 5 unit dan kecamatan Tembuku paling banyak yakni 35 unit. Namun dari 100 unit, Bangli baru bisa menangani 76 unit tahun ini , puls 2 unit tambahan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Lanjut dia meskipun Dinas Sosial tak mampu klarkan 100 unit, namun kekurangangan itu bakal ditanggulangi oleh desa dengan ADD.

Perlu diketahui sejumlah calon penerima bedah rumah di Bangli mengeluhkan atas ketidak jelasan realisasi bedah rumah. Mereka mengaku menunggu dalam ketidak jelesan. “Kapan sesungguhnya kami dapat realisasi bedah rumah, rumah kami sudah semakin hancur, kami tidur saja susah, mohon kami diberi penjelasan,” ujar warga calon penerima bedah rumah di Kintamani yang  namanya dirahasiakan.