Bali Tribune, Selasa 21 November 2017
Diposting : 8 August 2017 18:18
redaksi - Bali Tribune
MAESTRO
Keterangan Gambar: 
PADAMKAN - Petugas berupaya memadamkan api yang melahap rumah warga di Banjar Camenggaon, Celuk, Sukawati, ukiran dan patung peninggalan maestro Made Suthedja ikut terbakar.

BALI TRIBUNE - Ukiran dan patung peninggalan mendiang maestro seni Made Suthedja musnah oleh si jago merah yang melalap bangunan yang di dalamnya tersimpah banyak karya ukiran dan patung peninggalan seniman ukir pandil dan patung ternama tersebut. Padahal, barang-barang tersebut selama ini diburu kolektor seni, tapi pihak keluarga memilih menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

          Warga Banjar Camenggaon, Celuk Sukawati, Senian (7/8) pagi, dikejutkan dengan kepulan asap tebal dari kediaman warga  I Wayan Miarta. Sebuah bangunan Bale Dauh didapati sudah diselimuti api dan warga mencoba menghalau dengan peralatan seadanya. Petugas pemadam kebakaran pun dengan cepat tiba di lokasi dan api tidak sampai merembet ke bangunan lainnya.

Istri Miarta, Ni Wayan Mariati (47) menyebutkan, sebelum kebakaran terjadi ia dan adiknya Rinjani tengah duduk di depan dapur. Tak berselang lama, adiknya mendengar suara letupan di bale dauh. “Setelah kamis tengok  ke dalam,sudah ada korban api dan asap dibagian atap,” ungkapnya.

Ia panik dan teriak-teriak kebakaran. Tetangganya langsung berdatangan dan mencoba menghalau api.  Berselang beberapa menit, lima unit mobil pemadam kebakaran tiga di lokasi secara bergiliran dan langsung bergerak cepat memadamkan api. Dalam hitungan satu jam api akhirnya berhasil dilumpuhkan, meski selurua barang di dalam bangunan itu, sudah rata dengan lantai.

Kebakaran itu menghanguskan bangunan. Miarta menyebutkan jika di dalam bangunan bale dauh, terdapat ukiran dan patung peninggalan mendiang maestro seni Made Suthedja. “Karena karya seni peninggalan kakek yang tak ternilai harganya, hanya tersisa satu saja,” sesalnya.

Disebutkan, semasa hidupnya, Made Suthedja dikenal sebagai seniman ukir pandil dan patung ternama. Bahkan, barang-barang peninggalannya hingga saat ini diburu kolektor seni. Karyanya selama ini diburu, tapi pihak keluarga memilih menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Kepala Dinas Damkar Gianyar, Cokorda Gede Agusnawa mengatakan, sebanyak lima unit mobil damkar dikerahkan. Pihaknya sempat kesulitan dalam menjangkau rumah korban, lantaran untuk menujunya harus melalui rumah tengga. Namun pihaknya bersyukur para tetangga korban juga membantu petugas, sehingga api tidak merembet ke bangunan lain. “Dari informasi dan laporan pihak kepolisian, kebakaran ini diduga karena konsleting listrik,” tegasnya.