Bali Tribune, Senin 28 Mei 2018
Diposting : 4 April 2016 14:59
Valdi S Ginta - Bali Tribune
Keterangan Gambar: 
I Gusti Ayu Dewita Mahayani

Denpasar, Bali Tribune

Sungguh malang nasib yang dialami I Gusti Ayu Dewita Mahayani (10), bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 sebuah SD ini. Ia terpaksa tidak bisa mengikuti aktivitas belajar di sekolah bersama teman-temannya, lantaran menderita sakit Leukimia.

Anak kedua dari pasangan suami istri (pasutri) I Gusti Bagus Mahardika (34) dan I Gusti Ayu Lusiani (29), warga asal Tegalwangi, Sesetan Denpasar ini, kian hari tampak semakin kurus ketika penyakit ganas tersebut mengrongoti tubuhnya sejak bulan Februari lalu.

“Setelah hari raya Galungan, perutnya tiba-tiba sakit dan membesar. Mulanya kami mengira ia menderita tomor, setelah dicek ada masalah pada limpanya dan harus opname selama tiga minggu. Setelah itu, ia sering sakit dan berat badannya terus menurun dari 48 kg sekarang sudah 28 kg,” ujar ibu kandungnya, saat ditemui di ruang Bakung RSUP Sanglah, Minggu (3/4).

Kata Lusiani, sejak didiagnosa terkena penyakit ganas tersebut oleh dokter, anaknya selalu merasa minder jika berhubungan dengan teman sebayanya. “Gara-gara sakit ini, ia sering menyendiri, tidak mau bermain dan sekolah, karena sering dibully oleh teman-temannya di sekolah,” ujarnya penuh iba.

Untuk itu, Lusiani berharap setelah anaknya bisa sembuh total ada yayasan yang bisa menampung dan dapat memulihkan kondisi psikolgis anak-anak penderita Leukimia seperti anaknya, sehingga dapat kembali berbaur dengan anak-anak lainnya. “Saya juga mencari yayasan yang khusus menampung anak-anak penderita Leukimia. Biar anak saya dapat kembali berbaur dengan teman-temanya setelah sembuh dari sakit ini,” katanya.

Selama masa perawatan di RSUP Sanglah, bocah malang ini sudah melakukan tranfursi darah yang disebabkan sel darah putih memakan sel darah merah. Tak hanya itu, beberapa bagian tubuh bocah perempuan ini juga mengalami perubahan. “Saat dirawat di IGD, imunnya turun dan sering panas, kuku kaki dan tanganya membiru. Akhirnya dipindah ke sini,” katanya

Tak lupa ia juga mengharapkan ada pihak yang mengulurkan bantuan untuk meringankan biaya pengobatan anaknya saat dirawat di rumah sakit. “Saat ini, biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS, dan bantuan biaya sendiri untuk keseharian kami di sini,” kata prempuan yang mengaku suami memiliki penghasilan pas-pasan sebagai penjaga counter handphone.