Diposting : 11 May 2018 21:11
I Made Darna - Bali Tribune
sport tourism
Keterangan Gambar: 
Bupati Nyoman Giri Prasta bersama Wabup Ketut Suiasa, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, Prof Gde Pitana dan para undangan saat membuka Festival Budaya Bahari Kabupaten Badung, Rabu (9/5) lalu di Pantai Pandawa Kutuh.
BALI TRIBUNE - Layaknya raja dengan jubah kebesarannya dan diarak menggunakan kereta kencana, Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta bersama Wabup Ketut Suiasa dan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, Prof Gde Pitana menjadi pimpinan dalam parade pembukaan Festival Budaya Bahari Kabupaten Badung (Badung Budaya Bahari), Rabu (9/5) lalu di Pantai Pandawa Kutuh.
 
Kemudian diikuti dibelakang rombongan, Bendeaa Adat Kutuh Made Wena dan Kadispada Badung, Made Badra. Ikut hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Kabupaten Badung yang diwakili I Gusti Anom Gumanti, Nyonya Seniasih Giri Prasta, Nyonya Kristiani Suiasa, Kadis OPD di kabupaten Badung, Ketua Gatriwara kabupaten Badung, Ketua BPPD dan PHRI kabupaten Badung, Muspika kecamatan Kutsel, Asosiasi Pariwisata, tokoh adat dan agama di Badung dan mitra stakeholder.
 
Bupati Giri Prasta menerangkan, Festival Budaya Bahari Kabupaten Badung yang bertema 'Persembahan kepada Laut', adalah bentuk komitmen pihaknya dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir, yang dikemas dalam bentuk pertunjukan, seni dan budaya. 
 
Melalui event tersebut pihaknya akan mempertontonkan konsep blue ekonomi, yang mana keberadaan laut harus dijaga, dilestarikan dengan baik dan biota laut harus tetap dilestarikan. Selain itu untuk melindungi masyarakat petani pesisir, yang notabane bersentuhan langsung dengan laut. Pihaknya saat ini sedang merancang perda perlindungan, agar eksistensi nelayan tidak punah dan laut akan terjaga. 
 
"Kita ingin pelaksanaan event ini berjalan sempurna, ini akan terus kita evaluasi. Sehingga kedepan benar-benar bisa berkelas internasional dengan event yang dihelat berkelas internasional. Ini akan menjadi event tahunan sehingga atlet-atlet dari luar negeri dan pecinta sport tourism akan berkunjung ke Bali dan menikmati Bali,” terangnya.
 
Berbagai inovasi dalam upaya menjaga laut dan memberdayakan nelayan diungkapkannya dalam kesempatan tersebut, seperti pasar ikan higienis, modernisasi penangkapan ikan oleh nelayan dengan mengadopsi IT dan tentu ramah lingkungan. Selain ittu mensinergikan sektor bahari dengan pariwisata adalah konsep yang sedang digenjot pihaknya, dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Badung dan meningkatkan lenght of stay. 
 
"Pariwisata kita ini perlu sentuhan dan terus ditingkatkan. Karena itulah inovasi dan promosi ini sangat diperlukan,"tegasnya sembari berharap dukungan semua pihak dalam merealisasikan hal tersebut, sebagai upaya mensejahterakan masyarakat.
 
Apresiasi setingi-tingginya diberikan oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, Prof Gde Pitana atas terselenggaranya Festival Budaya Bahari Kabupaten Badung untuk yang ke 2 kalinya. Dimana festival terebut dinilai memiliki peran yang sangat strategis di bidang pariwisata dan memiliki potensi yang sangat luar biasa. Namun sayangnya marine base toursism seperti itu relatif terlupakan, karena selama ini lebih berkonsentrasi pada land base tourism. 
"Festival adalah suatu satu cara untuk mempromosikan pariwisata dan daerahnya. Kendati Bali sudah terkenal seantero dunia, tapi upaya promosi harus tetap dilakukan seiring persaingan destinasi di era globalisasi. Apalagu berbagai negara menjadikan pariwisata sebagai sektor ungggulannya. Kita harapkan festival ini bisa menjadi salah satu event yang ada dalam kalender of event,"terangnya.
 
Dipaparkannya, pariwisata mempunyai karakteristik pelestarian alam, budaya dan seni. Jika semakin dilestarikan, maka akan mensejahterakan. Adanya festival diakuinya memiliki berbagai peranan strategis, yaitu secara langsung akan mempromosikan destinasi tempat festival diadakan, festival bisa menjadi sebuah ikon untuk mengundang wisatawan, festival bisa memotivasi masyarakat untuk mengembangkan kreatifitas dan secara langsung terlibat dalam kepariwisataan. 
Festival akan membangkitkan dan menggairahan kesenian lokal, yang merupakan modal dasar kepariwisataan. Festival bisa menumbuhkan kesadaran mayarakat akan kesadaran menjaga dan melestarikan lingkungan. Karena itulah sebuah festival yang memiliki nilai pelestarian budaya itu perlu ditransformasikan menjadi ekonomic values, yang nantinya mampu mensejahterkaan masyarakatnya. 
"Festival budaya baharui ini menunjukan keberpihakan sektor pariwisata kepada lingkungan. Karena pariwisata telah mendorong kegairahan masyarakat dalam berkebudayaan dan mencintai lingkungannya,"pungkasnya.