Diposting : 9 December 2017 12:09
Agung Samudra - Bali Tribune
drainase
Keterangan Gambar: 
TUNJUKKAN - I Nyoman Sutrisna tunjukan jaringan drainase di lahan warga.

BALI TRIBUNE - Warga yang memiliki rumah dan lahan pertanian di jalan Ngurah Rai, di sebelah timur Kantor Telkom Bangli, keberatan kalau lahannya dijadikan untuk saluran drainase. Bentuk keberatan warga dilakukan dengan melayangkan surat yang ditujukan kepada Bupati Bangli dengan tembusan Sekda, Dinas Pekerjaan Umum, Ketua DPRD Bangli. Dalam surat keberatan tersebut sebanyak 14 warga membubuhkan tanda tangan.

Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bangli I Nyoman Suarsana saat dikonfirmasi membenarkan adanya surat keberatan dari warga. “Untuk surat keberatan sudah kita terima beberapa hari yang lalu, dan kini sedang dikaji,” kata Suarsana, Jumat (8/12). Dalam surat keberatan itu, ada warga yang mengkaim kalau salauran irigasi yang ada saat ini dibanguan dilahan miliknya. Selain itu keberadaan saluran irigasi itu juga dikatakan pemicu terjadinya banjir. “Memang sempat terjadi banjir  tahun lalu tingginya air sampai atap rumah,” jelasnya.

Warga juga mengungkapkan kalau kondisi gorong-gorong  yang membelah jalan Ngurah Rai yakni berada di sebelah utara rumah I Wayan Djawi sudah tidak bisa menampung air jika turun hujan lebat dan jika gorong-gorong tersumbat air akan menggenangi rumah warga. Dalam surat itu warga berharap kepada bapak bupati agar jalur air kali menuju pembuangan utama dikembalikan seperti awal mula yakni menuju kearah selatan dan bukan dialihkan ke barat menuju gorong- gorong disebelah utara rumah Wayan Djawi. ”Untuk masalah  jaringan drainase dibangun dilahan milik warga, bupati sudah memerintahkan Sekda untuk mengecek kebenarananya” jelas Suarsana.

Salah seorang warga Nyoman Sutrisna, anak dari I Wayan Jawi, mengatakan kalau lokasi jaringan dranase berada di lahan miliknya. Kata Sutrisna kronologisnya saat era kepemimpinan bupati  Ida Bagus Ladip. Lahan pekarangan rumah milik orangtuanya dipinjam sementara untuk jalur pembuanga air.

Ia mengungkapkan, jika turun hujan volume air dari arah timur (kali) cukup tinggi, bahkan air sempat menggenangi rumah berikut lahan pertanian warga, gara-gara gorong-gorong yang membelah jalan Ngurah Rai tersumbat oleh sampah. “Tembok panyenker di sebelah utara rumah kami juga jebol gara-gara pondasinya terkikis air,” sebutnya seraya menunjukkan jaringan drainase yang berada di tengah pekarangan rumahnya. “Permintaan kami dan warga kepada pemerintah hanya satu mengembalikan alur air seperti awal mula yakni keselatan dan bukan dialihakan ke barat,” harapnya.

Berikut nama-nama 14 orang warga yang menandatangani surat keberatan: Jro Mangku Mas, I Ketut Sudiarta,I Wayan Djawi, Ida Bagus Made Armaya, Dewa Putu Antara, I Nengah Diana, I Wayan Puja Pande, I Nengah Duita, I Dewa Gede Ratno Suparso Mesi, I Nyoman Wirama,I Nyoman Raja, I Wayan Puja, Emmylia, I Ketut Marhaena. sam