balitribune.co.id | Mangupura - "Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di dunia. Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan di Pulau Bali, kami berkomitmen untuk senantiasa memastikan aspek keamanan dan keselamatan operasional penerbangan dan kebandarudaraan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai selalu terjaga. Oleh karena itu, pelaksanaan Airport Emergency Exercise menjadi sangat penting untuk menguji dan memastikan kesiapan seluruh pihak terkait dalam menghadapi keadaan darurat,” ujar General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Nugroho Jati dalam siaran persnya, Selasa (15/9/2026).
Dijelaskannya, pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali bersama seluruh komunitas bandara akan melaksanakan Airport Emergency Exercise (AEE) pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan ini merupakan latihan penanggulangan keadaan darurat skala penuh (full scale exercise) yang dilaksanakan secara berkala untuk memastikan kesiapan personel, prosedur dan dokumen SOP, serta koordinasi seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dalam menghadapi kondisi darurat di lingkungan bandara.
Sehubungan dengan pelaksanaan latihan tersebut, pengelola bandara setempat mengimbau kepada seluruh pengguna jasa yang berada di kawasan bandara untuk tetap tenang, tidak panik, serta mengikuti instruksi petugas bandara apabila melihat aktivitas yang merupakan bagian dari rangkaian latihan. Pelaksanaan AEE merupakan kegiatan terencana dan terkoordinasi yang ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta operasional penerbangan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Kata dia, pelaksanaan AEE bertujuan untuk menguji efektivitas dokumen Airport Emergency Plan (AEP) dan prosedur penanganan keadaan darurat di bandara yang berada di Kuta, Kabupaten Badung ini. Latihan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel sekaligus memastikan fungsi komando, koordinasi, dan komunikasi antarunit maupun instansi terkait dapat berjalan secara efektif dalam menghadapi berbagai skenario keadaan darurat.
“Dalam pelaksanaan AEE kali ini, kami melaksanakan tiga skenario latihan yang mencakup Building Fire Exercise, Airport Security Exercise, dan Aircraft Accident Exercise. Masing-masing skenario dirancang untuk menguji kesiapan personel dan efektivitas prosedur dalam menghadapi kondisi yang berbeda, mulai dari penanganan kebakaran gedung, gangguan keamanan di bandara, hingga simulasi penanganan kecelakaan pesawat udara,” imbuhnya.
AEE dilaksanakan dengan skenario menyerupai kondisi darurat sebenarnya untuk mengidentifikasi potensi evaluasi dan penyempurnaan terhadap prosedur yang telah ditetapkan. Selain itu, kegiatan ini juga melatih jalur koordinasi, sinergi, dan kesiapan seluruh komunitas bandara dalam memberikan respons yang cepat, tepat, dan terarah apabila terjadi keadaan darurat.
“Melalui pelaksanaan AEE ini, kami ingin memastikan seluruh personel memiliki pemahaman yang sama terhadap peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Harapannya, kesiapan ini dapat terus terjaga sehingga kami mampu memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi pengguna jasa serta mendukung kelancaran operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai,” katanya.