PBSI Bali Bidik “Host” Pra-PON | Bali Tribune
Bali Tribune, Rabu 12 Agustus 2020
Diposting : 8 July 2019 14:15
Djoko Purnomo - Bali Tribune
Bali Tribune/ PERDANA – Ketua Umum PBSI Bali Wayan Winurjaya saat memimpin rapat perdana pengurus, di Sekretariat PBSI Bali, Minggu (7/7).
balitribune.co.id | Denpasar - Meski persyaratan menjadi tuan rumah Pra-PON cabang olahraga bulutangkis tidak mudah, namun Pengprov Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Bali berniat hajatan tersebut dihelat di Bali.
 
“Kami akan berhitung matang soal pendanaan, kalau menjadi tuan rumah itu memerlukan berapa besar dana, dan kalau kita keluar, artinya Pra-PON digelar di luar Bali, berapa menghabiskan anggaran,” ucap Ketua Umum PBSI Bali, Wayan Winurjaya, Minggu (7/7).
 
Pra-PON bulutangkis terbagi ke dalam 7 wilayah. Wilayah 1 terdiri dari Aceh, Sumut, Bengkulu, Kepri, Bangka. Wilayah 2 meliputi Sumsel, Sumbar, Lampung, Jambi, Babel. Wilayah 3 diisi Banten, DIY, Jatim.  Sedangkan Bali berada di Wilayah 4 bersama NTB dan NTT.
 
Sementara Wilayah 5 meliputi Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Wilayah 6 semua Kalimantan dan Wilayah 7 semua Sulawesi.
 
Winurjaya mengatakan, meski Bali berada di Wilayah 4, namun untuk menjadi tuan rumah Pra-PON, maka syaratnya harus juga menggelar pertandingan untuk Wilayah 3 dan Wilayah 5. Dalam konteks ini, lanjut dia, tidak sedikit dana yang diperlukan.
 
“Kalau keinginan kami menjadi tuan rumah memang sangat besar, karena dengan dukungan publik sendiri bakal memberikan motivasi besar terhadap para atlet bulutangkis Pra-PON kita sendiri dalam menghadapi lawan-lawan mereka nantinya,” kata Winurjaya, usai rapat pengurus di sekretariat PBSI Bali.
 
Winurjaya memrediksi untuk menjadi tuan rumah Pra-PON memerlukan dana berkisar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta. Karena pastinya jika Bali menjadi tuan rumah, maka harus menanggung peserta Pra-PON dari sisi transportasi dan akomodasi.
 
 Winurjaya yang juga ayah kandung pebulutangkis putri Bali, Made Pranita Sulistya Devi itu mengatakan, dengan menjadi tuan rumah tiga wilayah, maka diprediksi akan ada sekitar 100 orang atlet bulutangkis belum termasuk ofisial yang mesti dihendel dan perangkat pertandingan. Semua itu, lanjut Winurjaya, memerlukan akomodasi, transportasi dan konsumsi.
 
“Karena itulah kami akan membuat rancangan dulu terutama terkait dengan biaya keluar jika Bali tak menjadi tuan rumah Pra-PON sekaligus untuk melihat sejauh mana nantinya KONI Bali atau pemerintah memberikan bantuan dana, termasuk pihak-pihak lainnya, tak terkecuali pihak sponsor. Kami lihat besar sekali semangat pengurus baru sekarang ini, untuk bisa menjadikan Bali sebagai tuan rumah. Tak terkecuali ada sisi sport tourism di dalamnya,” pungkas Winurjaya.