Bali Tribune, Rabu 18 Juli 2018
Diposting : 13 January 2018 19:53
San Edison - Bali Tribune
nasionalisme
Keterangan Gambar: 
IGN Alit Kesuma Kelakan.

BALI TRIBUNE - DPD Persatuan Alumni (PA) GMNI Bali menyelanggarakan Konferensi Daerah (Konferda), di Yayasan Panti Marhaenis, Jalan Banteng Nomor 1 Denpasar, Jumat (12/1).

Dalam Konferda tersebut, IGN Alit Kesuma Kelakan terpilih secara aklamasi menjadi Ketua DPD PA GMNI Bali periode 2018-2023. Mantan Wakil Gubernur Bali itu menggantikan Dewa Kade Raka Sandhi.

Usai terpilih, Alit Kelakan menegaskan bahwa DPD PA GMNI Bali merupakan organisasi yang anti penindasan atau kesewenang-wenangan. Setelah Konferda ini, pihaknya akan segera melakukan rapat kerja untuk bisa memperkuat organisasi.

Alit Kelakan juga berkomitmen melakukan pengembangan organisasi, dengan mendirikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di kabupaten yang belum terbentuk.

“Kami akan melakukan rapat koordinasi pada rapat kerja nanti. Di mana nanti yang belum ada DPC, kami akan bentuk. karena tugas berat kami begitu,  termasuk mendampingi anak-anak GMNI. Program paling penting memperkuat organisasi. Kedua menerjemahkan ideologi ini di tingkat prilaku dan implementasi,” paparnya.

Alit Kelakan menambahkan, GMNI adalah organisasi yang berideologi Marhaenisme. Dalam Marhaenisme, kata dia, ada sosionasionalisme, sosio demokrasi dan ke - Tuhan - an.

"Mengimplementasikan sosio-nasionalisme secara sederhana dengan diwujudkan spirit kebangsaan ini tanpa bicara feodalisme, perbedaan suku, dan perbedaan agama," ujar mantan anggota DPD RI ini.

Untuk sosio-demokrasi, yakni demokrasi yang berpihak kepada rakyat. Ada demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. “Nah, bagaimana kaum Marhaen ini diperkuat aksesnya pada perekonomian. Jangan sampai kaum Marhaen ini selalu tertindas dan terpinggirkan,” tegas Alit Kelakan.

Untuk ke-Tuhan-an, menurut dia, bagaimana melaksanakan keberagamaan. "Kita bukan agama KTP, tapi agama kemanusiaan yang selalu berpikir dan menjaga marwah keberagamaan dan hakikat manusia. Jangan sampai beragama, sekadar retorika. Tapi melakukan penindasan terhadap agama yang lain. Beragama adalah Berketuhanan,” ujarnya.