Diposting : 11 May 2019 17:43
Djoko Moeljono - Bali Tribune
Bali Tribune/ Clekontong Mas dan Nanoe Biroe.
balitribune.co.id | Denpasar - Penampilan grup lawak Clekontong Mas (Sengap, Deday Tompel, Sokir) dan penyanyi Nanoe Biroe memeriahkan malam penutupan pameran bertajuk “Situs dan Ritus Tatanan Peradaban Bali” yang digagas Yayasan Bakti Pertiwi Jati (BPJ) di Denpasar Art Space (DAS), Jalan Surapati, Denpasar, Kamis (9/5) lalu.
 
Ketua Yayasan BPJ, I Made Bakti Wiyasa, mengatakan, Pameran “Situs dan Ritus Tatanan Peradaban Bali” berlangsung sejak 25 April 2019 lalu. Pameran ini menampilkan lebih dari 130 karya fotografi serta belasan karya lukisan dan drawing serta video, yang semuanya bertemakan tentang situs dan ritus di Bali.
 
Melalui pameran ini BPJ ingin menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian situs dan ritus kuno warisan leluhur Bali. Dalam pameran ini, panitia juga membuka kelas budaya yang diikuti para siswa dan mahasiswa.
 
Selama pameran ini berlangsung, pengunjung tiada pernah sepi. Setiap hari, baik hari kerja maupun hari libur, ruang pameran selalu tampak ramai oleh pengunjung yang datang dari berbagai latar belakang, seperti kalangan pelajar, mahasiswa, penglingsir puri, pengempon pura, pejabat, tokoh masyarakat, hingga wisatawan lokal maupun mancanegara.
 
“Yang sungguh membanggakan, pengunjung pameran terbanyak datang adalah kalangan pelajar, baik siswa SD, SMP mapun SMA. Mereka datang secara bergrup dengan didampingi guru sekolahnya. Terima kasih kepada sekolah-sekolah yang telah meluangkan waktunya mengunjungi pameran ini,” kata Bakti Wiyasa.
 
Salah seorang pengisi acara, Sengap menyampaikan, kehadiran Clekontong Mas dalam kegiatan ini sebagai wujud kepeduliannya terhadap pelestarian situs dan ritus di Bali. Seniman yang bernama lengkap I Nyoman Ardika ini mengaku prihatin dengan banyaknya pembongkaran situs pura kuno yang kian marak terjadi.
 
Menurutnya, terjadinya pembongkaran tersebut lantaran kurangnya pemahaman akan tatwa atau spirit rohani dari pembangunan pura tersebut. “Pemahaman tatwa yang kurang, akhirnya pura diubah seenaknya. Dilakukan perubahan total, penambahan pelinggih, bahkan ada pura yang lokasinya digeser ke tempat baru dengan alasan supaya lebih luas dan bisa dibangun lebih megah,” ungkapnya.
 
Sengap menambahkan, dalam upaya mendorong pelestarian tatanan situs dan ritus kuno di Bali, dalam setiap penampilannya Clekontong Mas sebisa mungkin menyelipkan pesan-pesan terkait hal tersebut.
 
Yayasan BPJ, Komang Gde Subudi, menyampaikan keberadaan situs-situs kuno di Bali beserta ritusnya perlu dilestarikan oleh masyarakat Bali. Sebab, situs dan ritus tersebut merupakan sumber dari taksu atau spirit tanah Bali yang membedakannya dengan daerah lainnya di dunia. “Dengan melestarikan situs dan ritus warisan leluhur Bali berarti pula kita menjaga taksu Bali,” katanya.