Diposting : 24 April 2018 15:24
Arief Wibisono - Bali Tribune
BEI
Keterangan Gambar: 
BEI - Kegiatan Capital Market Professional Development Program (CMPDP) 2018 di Kantor BEI, Denpasar, (21/4).
BALI TRIBUNE - Pasar modal merupakan salah satu elemen penting untuk pembangunan, terutama di negara berkembang.
 
Tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia dalam 10 tahun terakhir menjadi indeks yang paling potensial di dunia, yaitu sebesar 125.40 persen.
 
Sayangnya, minimnya sumber daya membuat industri pasar modal belum dapat difasilitasi secara optimal. Hal ini justru dinilai membuka peluang untuk berkarir di pasar modal.
 
Bercermin dari hal tersebut,  PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia kembali menggelar Capital Market Professional Development Program (CMPDP) 2018.
 
Seleksi Nasional CMPDP dilakukan secara serentak oleh The Indonesia Capital Market Institute (TICMI). Di Bali, seleksi tertulis dihelat di BEI Bali, Sabtu (21/4).
 
Head Of Representative Office BEI, I Gusti Agus Andiyasa menjelaskan, bagi peserta yang lulus tes tertulis akan mengikuti serangkaian tes lainnya seperti psikotest, FGD, dan interview. "Peserta terbaik akan mengikuti 6 bulan program pengembangan dan 6 bulan on the job training. Nantinya setiap lulusan CMPDP akan ditempatkan bekerja di SRO," jelasnya.
 
Pada tahun 2018, Jumlah pelamar CMPDP 3.962 orang pelamar. Setelah melalui proses seleksi administrasi, sebanyak 3.575 kandidat mengikuti seleksi tertulis CPMDP pada 21 April 2018, serentak di Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Banda Aceh, Medan, Padang, Pangkalpinang, Batam, Riau, Bengkulu, Lampung, Palembang, Jambi, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Denpasar, Balikpapan, Makassar, Ambon, Kendari, Manokwari, Jayapura, Mataram, dan Manado.
 
Di Bali sendiri, imbuh Agus Andiyasa, setelah melewati tes administrasi, ada 31 peserta yang mengikuti tes. "Yang hadir hari ini 22 orang. Terdiri dari 4 perempuan dan 18 laki-laki," rincinya.
 
Menurutnya, dengan demikian Self Regulation Organization (SRO) akan memiliki SDM profesional yang handal dan memadai guna mendukung operasional bisnis dan mengembangkan industri pasar modal Indonesia. "Kita harapkan pasar modal Indonesia bisa menjadi yang terbesar di ASEAN pada 2020 dan bersaing secara global," harapnya.