Diposting : 8 July 2017 14:30
I Wayan Sudarsana - Bali Tribune
LONTAR
Keterangan Gambar: 
NYURAT LONTAR - Puluhan anggota Karang Taruna Kecamatan Denpasar Selatan mengikuti pelatihan penulisan aksara Bali di daun lontar (nyurat lontar) di Lapangan Letda Made Pica, Desa Sanur Kaja, Jumat (7/7).

BALI TRIBUNE - Puluhan anggota Sekaa Truna se-Desa Sanur Kaja serta Karang Taruna se-Kecamatan Denpasar Selatan mengikuti pelatihan penulisan aksara Bali di Daun Lontar (Nyurat Lontar), di Lapangan Letda Made Pica, Desa Sanur Kaja, Jumat (7/7). Pelatihan ini untuk memperkenalkan cara menulis aksara Bali di daun lontar dengan baik dan benar.

Salah satu pembina dalam pelatihan tersebut, Ayu Eka Suari, mengatakan dalam kegiatan pelatihan ini pihaknya mengajak para generasi muda untuk kembali mengenal dan memahami cara menyurat aksara di daun lontar.

Tak hanya itu, acara yang juga melibatkan Penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di Kecamatan Denpasar Selatan ini, juga bertujuan mengedukasi generasi muda dalam melestarikan budaya Bali yang berupa aksara serta bahasa Bali.

“Pelatihan ini diikuti 20 orang anggota Karang Taruna. Dalam pelatihan, peserta diajak mengenal alat-alat yang digunakan untuk menyurat lontar. Selain itu, peserta juga diajak menyaksikan proses pembuatan daun lontar dari video yang ditampilkan oleh panitia dari layar LCD. Kami juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertanya juga berdiskusi tentang cara menyurat lontar yang baik dan benar. Setelah menjabaran materi, peserta dibimbing untuk menyurat di atas daun lontar. Hasilnya pun beragam. Sesuai kreatifitas peserta,” ujar Ayu Eka Suari yang merupakan Penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di Desa Sanur Kaja ini.

Sementara, salah satu peserta, Ida Ayu Sawitri Puja Astuti, mengatakan pelatihan ini sangat bermanfaat mengingat pembimbing memberikan tata cara penulisan aksara di daun lontar dengan baik. “Acara ini sangat bermanfaat, tak hanya tahu cara menulis (menyurat) lontar, tapi dari kegiatan ini kita bisa tahu, sikap saat menulis (menyurat) lontar, menentukan hasil tulisan kita. Kita juga dapat mengetahui proses pembuatan lontar secara tak langsung. Harapan saya, semoga kegiatan semacam ini tetap terus berkelanjutan” tandasnya.