Diposting : 22 March 2019 23:54
habit - Bali Tribune
Balitribune/dsy Proses pembuatan tempe di tempat pengolahan Sari Utama, Denpasar Barat.

Balitribune.co.id | Denpasar - Kebutuhan tahu dan tempe di Bali cukup tinggi, terbukti dari masih berproduksinya beberapa pabrik pengolahan tahu dan tempe di Kota Denpasar. Salah satunya pengolahan tahu-tempe Sari Utama di Jalan Nusa Kambangan Dauh Puri, Denpasar Barat, yang memproduksi 100 kg tempe dan 75 kg tahu setiap hari.

Usaha rumahan ini sudah beroperasi sejak 30 tahun yang lalu. Pemiliknya bernama Umi Kalsum berasal dari Banyuwangi. Semula, usahanya hanya memproduksi tahu tempe suntuk memenuhi kebutuhan beberapa warung harian di sekitar tempat usahanya. Namun lambat laun terus berkembang, sampai sekarang memiliki tiga orang karyawan.

Dalam sehari, pabrik ini dapat memproduksi 100 kg tempe dan 75 kg tahu yang diolah dari satu ton kedelai. Bahan pokok kedelai diperoleh dari pinjaman koperasi setempat dengan harga Rp 72 ribu/kg. Pembayarannya dilakukan setelah stok yang ia pinjam habis. Para pedagang datang sendiri ke pabrik ini mengambil tahu dan tempe dengan harga Rp 800/potong.

Tahu dan tempe itu kemudian dijual kembali di pasar atau warung dengan harga Rp 1.000/potong. “Saya juga menjual sendiri tahu dan tempe ini di pasar. Yang menjual anak saya di Pasar Sumbersari, Padang Sambian,” kata Umi Kalsum. Mengenai kendala usaha ini, Umi Kalsum mengatakan harus memperhitungkan masa kadawluarsa produk tak lebih dari 24 jam.

Sebab, kalau melewati waktu itu tahu dan tempe akan berjamur. Karena itu, perhitungan jumlah dan waktu produksinya harus pas, demi menjaga kualitas dan cita rasanya.Ditanya soal keuntungan per hari, Umi Kalsum mengaku tidak pasti. Ada hari-hari tertentu yang permintaan pasar naik. Sebaliknya, ada pula yang permintaan turun. cw/dsy