Diposting : 5 March 2020 17:48
Putu Suasta - Bali Tribune
Bali Tribune / Putu Suasta - Alumnus UGM dan Cornell University
balitribune.co.id | Partisipasi dan peran serta masyarakat sungguh mutlak dan strategis bagi terciptanya hubungan harmonis antar bangsa. Upaya kerjasama antar pemerintah yang dikenal dengan G to G, menjadi lebih optimal apabila masyarakat antar bangsa, mengambil bagian secara aktif sesuai bidang profesi dan peminatannya. Demikian sari pendapat berbagai tokoh yang mengemuka selama penyelenggaraan kegiatan bersama Wisma Jerman dengan Kantor Pos dan Filateli Surabaya, akhir Pebruari lalu.
 
Mike Neuber, direktur Wisma Jerman di Surabaya menuturkan bahwa kerjasama antar bangsa akan memberi hasil optimal apabila masyarakat mampu mengisi ruang dan peluang yang tersedia. Pemerintah biasanya membangun kerangka besar kerjasama, baik bilateral maupun multilateral, yang perlu diisi  oleh masyarakat, baik di bidang ekonomi, sosial dan budaya, lanjut Mike.
 
Selanjutnya, Dino Aryadi, Kepala Kantor Pos Surabaya menyampaikan bahwa gairah partisipasi masyarakat untuk ikut  ambil bagian dalam kerjasama antar bangsa, akan melahirkan kreativitas-kreativitas baru, diantaranya dalam memperkenalkan kekayaan dan keanekaragaman alam dan budaya suatu masyarakat. Dalam konteks Indonesia, lanjut  Dino, masyarakat dapat mewujudkan tersedianya informasi yang utuh berupa buku dan katalog destinasi wisata yang menarik dalam berbagai bahasa.
 
Sependapat dengan Dino,  Valentino Barus menegaskan bahwa pola dan hubungan antar bangsa yang berubah cepat dan dinamis, harus disikapi dengan pendekatan kreatif yang kaya dengan terobosan baru. "...Media komunikasi lama yang masih relevan, seperti perangko misalnya, perlu disandingkan dengan sarana dan pola baru komunikasi" lanjut Valentino.
 
Seiring dengan redupnya peran dan fungsi perangko sebagai alat bayar porto, semestinya diimbangi dengan peningkatan peran dan fungsinya sebagai alat untuk melestarikan dan mensosialisasikan kekayaan alam dan keanekaragaman  budaya bangsa. Untuk itu dibutuhkan keberanian dan kemampuan para pemimpin untuk bekerjasama dengan para blogger dan  memanfaatkan tokoh idola baru, seperti halnya diva baru yang lahir di tengah masyarakat, khususnya kaum milenial.
 
Selain itu, kegiatan masyarakat berupa pameran bersama perangko Indonesia dan perangko Jerman, sebagaimana dilakukan oleh Christian Tyrris, Lidya dan Dennis perlu dilaksanakan secara lebih menarik sesuai selera milenial.  Menghadirkan tokoh idola milenial di ruang pameran dan foto bersama idola dalam perangko merupakan beberapa diantaranya.
 
Sementara itu, upaya untuk terus saling berbagi informasi tentang berbagai aspek akan menambah saling pengertian antar bangsa. Bukankah pepatah mengatakan "tak kenal, maka tak sayang". Karena itu, niat dan tekad Mike Neuber dari Wisma Jerman dan Valentino untuk menghadirkan buku "Indonesia Through Stamps" dalam versi Jerman segera terealisasi dalam rangka memperkaya khasanah Indonesia di tengah masyarakat Jerman.