Diposting : 12 March 2018 20:39
Ayu Eka Agustini - Bali Tribune
UNBK
Keterangan Gambar: 
Saat kunjungan di SMK Perindustrian Yogyakarta

BALI TRIBUNE - SMK Perindustrian Yogyakarta yang merupakan salah satu sekolah swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini sebagai sekolah perintis penyelenggara Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada 2015 lalu. Sekolah yang telah menerapkan sistem pembelajaran elektronik atau e-learning ini dikunjungi oleh rombongan Press Tour Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali yang dipimpin Sekwan DPRD Bali, Gusti Ngurah Alit, Kamis (8/3) untuk memperoleh informasi perkembangan pelaksanaan e-learning di sekolah tersebut.

Kepala SMK Perindustrian Yogyakarta,
Dede Zakiyuddin mengungkapkan sejak pemerintah mengumumkan pelaksanaan UNBK pada 2015, pihak sekolah pun memberanikan diri untuk mendaftar sebagai salah satu penyelenggara UNBK. "Terkait e-learning yang diterapkan di sekolah ini merupakan kenekatan," cetusnya.

Dia menceritakan, saat mendaftar menjadi penyelenggara UNBK pemerintah menetapkan persyaratan bahwa harus memiliki komputer sebanyak 1/3 plus 10 persen dari jumlah siswa. Padahal ketika itu kata Dede, jumlah siswa kelas 3 yang akan mengikuti UNBK sebanyak 70 orang namun pihak sekolah hanya memiliki 24 komputer. "Karena kami sudah nekad, yayasan pun mengikuti dengan mencari tambahan komputer untuk memenuhi persyaratan," tuturnya.

Selanjutnya, pihak sekolah mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai sekolah perintis penyelenggara UNBK. Selain itu juga mendapatkan sejumlah bantuan tambahan berupa laptop dan LCD. "Sehingga untuk UNBK tahun 2018 ini dengan jumlah peserta 101 kita merencakan dengan 2 sesi. Justru bantuan-bantuan yang diterima membuat kami terpacu," kata Dede.

Melalui UNBK tersebut pihak sekolah dikatakannya mampu menghemat dana hingga 40-60 persen. "Dengan UNBK menghemat biaya-biaya penggandaan kertas dan pengawas," bebernya.

Lebih lanjut dia mengatakan, kemudian bertemu dengan Tekkomdik yang akhirnya berbagai masalah pendidikan bisa teratasi dengan Jogjabelajar (JB) Class. "Tidak banyak tatap muka. Siswa lebih bergairah belajar, guru yang belum familiar harus mau belajar, kerja akhirnya bisa lebih cepat, lebih cepat analisis dan bisa ambil tindakan untuk siswa," ungkap Dede.

JB Class ini diakuinya meringankan biaya karena semuanya mudah, juga aplikasinya. Meski banyak aplikasi,  namun JB Class adalah produk lokal yang harus menjadi kebanggaan orang Yogya. Seperti diketahui JB Class merupakan sebuah aplikasi learning management system berbasis website yang didesign sebagai media tambahan atau pengayaan pembelajaran yang akan melengkapi pembelajaran konvensional melalui kelas maya. JB Class tersebut sekarang ini diterapkan di SMK Perindustrian Yogyakarta.