Diposting : 23 May 2016 12:46
redaksi - Bali Tribune
Waisak
RUPANG - Umat Budha saat melaksanakan ritual Pemandian Rupang Bodhisattva pada perayaan Hari Tri Suci Waisak 2560 di Vihara Buddha Dharma, Jalan Eka Laweya, Sunset Road Kuta, Minggu (22/5).

Kuta, Bali Tribune

Ribuan umat Budha di Bali merayakan hari Tri Suci Waisak 2560 dengan menggelar persembahyangan di Vihara Buddha Dharma, Jalan Eka Laweya, Sunset Road, Kuta, Minggu (22/5). Mereka tampak kusyuk melantunkan doa-doa dan membaca kitab suci untuk keselamatan semua umat.

Ketua panitia, Rosita AB mengatakan, pelaksanaan perayaan hari Tri Suci Waisak 2560 di Vihara Buddha Dharma sudah dimulai sejak Sabtu (21/5) malam dengan perayaan Pradaksina (Puja Bakti Malam Waisak 2560). Sementara kegiatan Minggu (22/5), diawali menyambut detik-detik Waisak yang jatuh pada pukul 05.14 Wita dilanjutkan dengan pelaksanaan Pindapatta, pada pukul 07.00 Wita hingga 07.30 Wita.

“Untuk Puja Bhakti Waisak, baru dimulai pukul 08:30 Wita hingga pukul 10:00 Wita. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemandian Rupang Bhodisattva yang dilakukan oleh semua umat yang hadir. Selain persembahyangan pada perayaan hari Tri Suci Waisak kali ini juga digelar donor darah dan bazar amal berupa penyediaan beras murah dan minyak goreng kepada warga kurang mampu,” ujarnya.

Sementara itu, Bikhu Badranatta, menjelaskan perayaan Hari Tri Suci Waisak sejatinya merupakan perayaan terhadap tiga peristiwa penting umat Buddha. Tiga peristiwa penting tersebut yakni memperingati hari kelahiran Bodhisattva Pangeran Sidharta, memperingati pencapaian pencerahan sempurna Sidharta Gautama (Petapa Gautama) di Bodgaya dan memperingati hari Pari Nibana (wafatnya Sang Buddha Gautama).

“Untuk menyambut tiga peristiwa penting tersebut, maka umat Buddha merayakannya dengan perayaan Tri Suci Waisak. Untuk di Bali khususnya di Vihara Buddha Dharma, perayaan Tri Suci Waisak dimulai sejak Sabtu malam yakni dengan perayaan Malam Pradaksina, yakni penghormatan untuk menyambut Hari Tri Suci Waisak dengan pembacaan parita suci dan ceramah Dhamma,” kata Bikhu Badranatta.

Sementara kegiatan Minggu diawali dengan menyambut detik-detik Waisak dilanjutkan pelaksanaan Pindapatta. Pindapata merupakan sebuah tradisi yang diwariskan untuk memberikan kesempatan kepada umat berbuat kebaikan melalui berdana. Kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan dengan pembacaan parita, dan pemandian Rupang Bodhisatva Pangeran Sidharta.

“Memandikan Rupang Bodhisattva Pangeran Sidharta sejatinya tidak hanya memandikan Rupang Buddha, namun sejatinya pada tradisi ini merupakan rangkaian pembersihan kepada diri kita sendiri. Memandikan Rupang bermakna membersihkan diri, membersihkan pikiran kita, tata ucap, dan membersihkan perbuatan kita dari perbuatan yang tidak baik,” katanya.

Ditambahkan Bikhu Badranatta, perayaan Hari Tri Suci Waisak kali ini dengan tema ‘Tranformasi Mental dengan Damai dan Harmoni’. Ia berharap semua umat dapat merubah pola pikir, tata prilaku, dan sikapnya untuk menjadi lebih baik, sehingga dengan perubahan pola pikir yang baik akan menjadi mental yang berkualitas.

“Dengan mental yang berkualitas saya yakin akan mampu memberikan sebuah keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan ini. Kami berharap umat mampu menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap sesama dan semua makhluk sehingga kedamaian dan keharmonisan dunia tercipta dengan baik. Harapan manusia ingin hidup damai dan bahagia,” ujarnya.

Lepas Burung

Sementara di Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar, perayaan Waisak diwarnai dengan pelepasan ratusan burung. Pelepasan burung ini sebagai tanda cinta kasih terhadap mahluk hidup sesuai tema Waisak tahun ini.

“Dengan melihat kondisi kehidupan di berbagai belahan bumi saat ini, tema mengenai cinta kasih penjaga dunia sangat tepat. Ini juga membuktikan acara Guru Agung Sang Buddha masih relevan hingga saat ini, walaupun sudah berlalu ribuan tahun,” Jelas Ketua Dayaka Sabha Vihara Buddha Sakyamuni Denpasar, Oscar NW, Minggu (22/5).

Dijelaskan, dengan demikian perayaan Waisak bukan hanya untuk memperingati tiga peristiwa penting yakni lahirnya Sidartha Gautama, yang mencapai penerangan sempurna sebagai Buddha dan Sang Parinibbhana. Namun, menjadi momentum untuk selalu mengingat dan melaksanakan ajaran Buddha.

Selain acara pelepasan ratusan burung, perayaan Waisak tahun ini diawali dengan meditasi bersama, menyambut detik-detik Waisak. Perayaan Waisak berlangsung khidmat dihadiri ribuan umat yang datang dari Bali maupun luar Bali.

Sementara itu, Ketua panitia Andre Tanjaya menambahkan, sehari sebelumnya, Sabtu (21/5) lalu, dilaksanakan upacara visudi upasaka-upasika atau pernyataan untuk memperkuat keyakinan kepada sang Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha) yang diikuti oleh umat berbagai usia. “Hal ini menandakan perayaan Waisak juga dimaksudkan sebagai ungkapan syukur seluruh umat kerena telah dapat mengenal dan melaksanakan Dhamma ajaran guru agung Sang Buddha,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, sebelumnya telah dirayakan kegiatan Mahajata atau perayaan hari jadi Vihara Buddha Sakyamuni ke-24, yang diisi Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD). Di antaranya, kengiatan ceramah Dhamma dan latihan atthasila pada 21 April hingg 20 Mei lalu.

Sebelum Waisak juga diisi berbagai macam kegiatan seperti seminar umum dengan tema “Siasati Era Digital Ketika Gadget Jadi Idola”, dan seminar remaja: “Masa Anak Bermain, Muda Belajar, Dewasa Berkarya, Tua Bahagia di dhammahal VBSM.

Selain itu juga dilaksanakan tradisi Pindapatta (berdana makan kepada Bhikkhu) sepanjang Jalan Gunung Agung menuju vihara dan upacara pelimpahan jasa untuk para lelehur.