Bali Tribune, Sabtu 18 November 2017
Diposting : 14 November 2017 21:36
Arief Wibisono - Bali Tribune
regulasi
Keterangan Gambar: 
Virawan Bagoes Oka

BALI TRIBUNE - Melambatnya perekonomian secara global yang berimbas pada perekonomian Bali tentu tidak bisa dibilang terjadi begitu saja. Apalagi November 2017 telah memasuki Outlook Ekonomi 2018 sehingga berbagai prediksi kondisi ekonomi sudah bisa diperkirakan. Berbagai perlambatan bisa ditandai dengan adanya tekanan ekonomi global, regional dan nasional. Menurut Pengamat Ekonomi yang juga Dosen Kajian Strategik Intelejen UI Bidang Finance dan Banking, Virawan Bagoes Oka, apa yang terjadi sekarang ini bisa merupakan siklus sepuluh tahunan yang akan terjadi di tahun 2018 mendatang.

“Akibat dari siklus ini saja sebenarnya sekarangpun sudah bisa dirasakan dengan bergesernya pola konsumsi masyarakat dari pemenuhan kebutuhan (consumer goods orientation) ke pola konsumsi leisure atau berorientasi pada pengalaman (wisata) yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Selain itu, pelambatan ekonomi juga dipengaruhi harga properti dan fixed asset di Bali dalam 3-4 tahun terakhir diwarnai oleh harga yang over priced alias di luar kewajaran. Hal ini karena didorong oleh penawaran yang berlebih, diduga karena demam spekualatif di masyarakat. Sehingga saat ini dengan adanya pengetatan likuiditas (uang) yang terjadi di masyarakat di era pelambatan ekonomi nasional, maka di Bali terjadi pembalikan situasi yang bersifat temporer. Yaitu situasi kelebihan supply atas properti menyebabkan daya beli terkesan menurun,” ungkap Virawan dari kediamannya di Denpasar, Senin (13/11).

Apalagi disebutkan kondisi ini diperparah dengan target pajak yang banyak macamnya juga besar nominalnya jadi ancaman tersendiri bagi dunia usaha. Dalam situasi seperti ini menuut Virawan semua pelaku usaha mengambil langkah-langkah strategis untuk bisa mempertahankan usahanya dengan mempertahankan posisi likuiditas yang cukup. “Pengusaha berjaga-jaga sambil melihat perkembangan ke depan,” ujarnya. Pengusaha juga melakukan konsolidasi dan efisiensi usahanya untuk tetap bisa menjaga kinerjanya secara optimal. Seperti menunda ekspansi usahanya, termasuk ekspor bagi para eksportir sehingga ekspor pun tumbuh kecil.

Pelaku usaha di bidang keuangan perbankan sebagai ujung tombak tumbuhnya perekonomian Bali juga sedang menata intensif terhadap portfolio pinjaman atau kreditnya untuk mengantisipasi potensi risiko portflionya dan meningkatnya NPL. Sehingga mempengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi Bali. Namun demikian optimisme pasar mesti ditumbuhkan dengan dimudahkannya regulasi serta digerakkannya potensi yang ada agar Bali yang notabene sangat tergantung dari sektor pariwisata masih mampu memberikan penetrasinya.